SURVEI DAN PEMETAAN ADAPTASI SPASIAL LAHAN PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM GLOBAL: STUDI KASUS WILAYAH DAS BODRI , PANTAI UTARA JAWA TENGAH
Salah satu dampak dari perubahan iklim global adalah naiknya permukaan air laut, yang bagi wilayah pesisir jawa tengah berdampak pada peningkatan frekuensi banjir tiap tahunnya. Kejadian banjir ini menggenangi bukan saja wilayah pertanian tetapi juga menyentu daerah pemukiman. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi risiko banjir pada wilayah pesisir, namun upaya tersebuh belum sepenuhnya menjawab permasalahan paling krusial pada wilayah tersebut, “bagaimana adaptasi wilayah pertanian terhadap fenomena perubahan iklim yang diindikasikan oleh meluasnya kawasan genangan air”?. Penelitian ini dimulai dari mengkaji permasalahan fisik wilayah untuk memahami karakteristik banjir, dampaknya terhadap produksi pangan dan bagaimana adaptasi yang dilakukan telah dilakukan terhadap banjir di kawasan DAS Bodri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik wilayah sebagai perilaku adaptasi masyarakat terhadap fenomena banjir di daerah pertanian. Analisis fisik wilayah penelitian dengan menggunakan data multi-temporal yang dikombinasikan dengan analisis multi-resolusi, digunakan untuk melakukan kajian pola dan sebaran bencana banjir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis penggunaan lahan dengan pendekatan, geospasial, temporal, ekologis dan sosial-ekonomis untuk keperluan kajian yang mendalam dalam mendukung “Evaluasi Adaptasi Daerah Rentan Banjir Untuk Kawasan Pertanian Pantura Dengan Pendekatan Geospasial”. Selain itu analisis hubungan antara perubahan penggunaan lahan wilayah hulu dengan perubahan iklim global yang diakibatkan perubahan curah hujan tahunan akan membantu menjawab tujuan penelitian ini. Paper ini menguraikan laporan sementara kegiatan ini riset unggulan terpadu ini. Ditemukan bahwa wilayah survei adaptasi teknis berupa pembangunan tanggul sepanjang sungai Bodri tidak cukup bahkan terkesan kurang efisien dan sangat rawan karena sering tidak mampu menampung debit puncak air sungai. Demikian pula pada beberapa kecamatan sepanjang DAS Bodri seperti Kecamatan Gemuh desa, Gemuh dan Kecamatan kangkung sejak beberapa tahun terakhir ini sering terjadi luapan yang menggenangi lahan pertanian dan desa sekitarnya setinggi 20-40 cm. Kawasan pertanian yang terkena dampak adalah padi sawah, tembakau dan bawang merah. Fenomena meluasnya kawasan banjir dan meningkatnya frekuensi banjir ini bila tidak diantisipasi sedini mungkin akan mempengaruhi kondisi fisik dan pengelolaan wilayah DAS Bodri secara keseluruhan. Sementara setiap perubahan penggunaan lahan ataupun pengolahan lahan dan rekayasa teknis terkait dengan adaptasi banjir oleh masyarakat pada kawasan Bodri akan berpengaruh secara luas pada tiga kabupaten wilayah lainnya, yang dikenal sebagai penghasil utama padi dan tembakau untuk wilayah Jawa Tengah. Dijumpai model adaptasi spasial yang ditemukan pada kawasan pertanian berupa sistem pemanfaatan (fragmentasi) lahan, sistem pengolahan lahan dan pola budidaya tanam.
yang memerlukan tulisan lengkap silahkan email ke drmoel@yahoo.com tersedia pula prosedingnya bisa diperoleh dengan harga Rp.300.000 sudah termasuk ongkos kirim
Tampilkan postingan dengan label Climate Change. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Climate Change. Tampilkan semua postingan
Jumat, Juli 01, 2011
Selasa, November 11, 2008
Climate change is What I can not Avoid
Kuala Lumpur, 4 November 2008. Masih sekitar satu jam lagi pesawat MH 723 jurusan Jakarta berangkat. Lumayan ada waktu untuk sedikit menulis beberapa catatan. Selama beberapa hari (2-6 November 2008), saya menghadiri seminar tentang "climate change and its effect to vegetation". Kedatangan saya atas undangan University Malaysia Sabah (UMS), Kinabalu. Sabah. Di UMS memang terdapat beberapa kawan baik saya seperti Dr. Phua Mui How, Prof, Mahmud Sudin, Dr. Jamili, Jupiri Titin, Dr. Rahimatsah Ahmad dan masih banyak lagi. Secara kebetulan kami sering bertemu dalam workshop terkait isu hutan tropis, baik Heart of Borneo, degradasi hutan Borneo, kebakaran hutan baik di Jepang ataupun Malaysia. Seperti seminar kali ini yang membahas isu perubahan iklim (climate change)dan dampaknya terhadap tanaman. Kami mencoba mendiskusikan sekaligus memformulasikan berbagai macam kemungkinan penyusunan kerjasama proyek (joint collaboration) terkait climate change antara Malaysia, Indonesia dan German.
Berbagai topik kami bahas selama, mulai dari aplikasi GIS dan remote sensing untuk pemetaan hutan, ground truth, metode alometrik, illegal loging dan defragmentasi hutan. Semua topik itu tentunya sangat menarik.
Kali ini bukan topik tersebut yang akan saya tulis di sini. Tetapi keterlibatan saya dalam program dan diskusi disana itu cukup menarik. Barangkali dari semua peneliti atau presenter makalah dalam pertemuan tersebut, hanya saya yang bukan dosen atau peneliti di organisasi non pemerintah (NGO). Mesti berlatar belakang pendidikan pada “Global forest environment” dari Tokyo University, namun separuh masa kerja saya lebih banyak untuk melakukan proyek pemetaan ataupun pengelolaan data geospasial alias bukan penelitian. Kondisi itu pula yang menjadi kendala sekaligus tantangan buat saya untuk beradaptasi dengan komunitas yang sudah terlanjur terbentuk. Bayangkan, sejak tahun 2006-2008 bersama professor Kanehiro Kitayama (Kyoto University) dan Dr. John Tay (UMS-Malaysia), kami sama-sama mendapat grant untuk penelitian JSP dengan tema “Land Conversions and Ecosystem Consequences under Climate Change in the Tropical Rain Forests of Borneo: Developing Societal Adaptability with Integrated Ecosystem Management”. Untuk Tahun 2009-2010 bersama dengan Dr. Phua Mui How dan Prof. Tsuyuki Satoshi (Tokyo University) kami sama-sama mengajukan proposal ke Asia Pasific Network (APN) program dengan tema “Integrated prediction of Dipterocarp species distribution in Borneo for supporting sustainable use and conservation policy adaptation”.
Barangkali di BAKOSURTANAL, cukup banyak peneliti yang tertarik untuk bekerja terkait climate change, hanya yang mendapat kesempatan melakukan kegiatan secara langsung sangat sedikit bakan boleh dibilang belum ada. Melihat kondisi itu, kegiatan ini merupakan tantangan buat saya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Paling tidak mencari suatu hubungan keterkaitan antara data spasial dan climate change.
Seminggu menjelang keberangkatan ke Malaysia ini, kebetulan saya juga diminta menemani kepala BAKOSURTANAL, bapak Matindas, untuk berdiskusi dengan expatriate dari GTZ terkait isu climate change. Saat itu Dr. Nana (selaku tim leader GTZ di Indonesia) sedang mencari masukan kegiatan BAKOSURTANAL terkait climate Change. Jadi sepertinya pas banget..Hanya di akui dana penelitian dari kantor BAKOSURTANAL boleh dikata tidak ada, karena semua sudha di alikan ke bidang Geomatika…. sekian
Berbagai topik kami bahas selama, mulai dari aplikasi GIS dan remote sensing untuk pemetaan hutan, ground truth, metode alometrik, illegal loging dan defragmentasi hutan. Semua topik itu tentunya sangat menarik.
Kali ini bukan topik tersebut yang akan saya tulis di sini. Tetapi keterlibatan saya dalam program dan diskusi disana itu cukup menarik. Barangkali dari semua peneliti atau presenter makalah dalam pertemuan tersebut, hanya saya yang bukan dosen atau peneliti di organisasi non pemerintah (NGO). Mesti berlatar belakang pendidikan pada “Global forest environment” dari Tokyo University, namun separuh masa kerja saya lebih banyak untuk melakukan proyek pemetaan ataupun pengelolaan data geospasial alias bukan penelitian. Kondisi itu pula yang menjadi kendala sekaligus tantangan buat saya untuk beradaptasi dengan komunitas yang sudah terlanjur terbentuk. Bayangkan, sejak tahun 2006-2008 bersama professor Kanehiro Kitayama (Kyoto University) dan Dr. John Tay (UMS-Malaysia), kami sama-sama mendapat grant untuk penelitian JSP dengan tema “Land Conversions and Ecosystem Consequences under Climate Change in the Tropical Rain Forests of Borneo: Developing Societal Adaptability with Integrated Ecosystem Management”. Untuk Tahun 2009-2010 bersama dengan Dr. Phua Mui How dan Prof. Tsuyuki Satoshi (Tokyo University) kami sama-sama mengajukan proposal ke Asia Pasific Network (APN) program dengan tema “Integrated prediction of Dipterocarp species distribution in Borneo for supporting sustainable use and conservation policy adaptation”.
Barangkali di BAKOSURTANAL, cukup banyak peneliti yang tertarik untuk bekerja terkait climate change, hanya yang mendapat kesempatan melakukan kegiatan secara langsung sangat sedikit bakan boleh dibilang belum ada. Melihat kondisi itu, kegiatan ini merupakan tantangan buat saya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Paling tidak mencari suatu hubungan keterkaitan antara data spasial dan climate change.
Seminggu menjelang keberangkatan ke Malaysia ini, kebetulan saya juga diminta menemani kepala BAKOSURTANAL, bapak Matindas, untuk berdiskusi dengan expatriate dari GTZ terkait isu climate change. Saat itu Dr. Nana (selaku tim leader GTZ di Indonesia) sedang mencari masukan kegiatan BAKOSURTANAL terkait climate Change. Jadi sepertinya pas banget..Hanya di akui dana penelitian dari kantor BAKOSURTANAL boleh dikata tidak ada, karena semua sudha di alikan ke bidang Geomatika…. sekian
Langganan:
Postingan (Atom)