Tampilkan postingan dengan label Informasi Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi Umum. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 18, 2009

Pondok Rajeg Selayang Pandang


Apabila anda bepergian kearah Depok dan Jakarta dari kota Cibinong atau sebaliknya, dan anda menginginkan jalur nyaman, tidak padat dengan sesekali beristirahat sambil makan dan minum kelapa muda disepanjang jalan. Bisa dipastikan maka jalan Pondok Rajeg lah yang anda pilih. Ini bisa dimaklumi, karena saat ini siapapun akan suka bepergian ke Depok lewat jalan tembus Pondok Rajeg-Depok. Ataupun sebaliknya bila ingin ke bogor dari Jakarta sambil menghindari kemacetan maka jalur Depok Pondok Rajeg hampir pasti dipilih. Bila kita lalui jalan ini, terasa rimbunan pohon bamboo seakan bersalawat, hamparan rumah dan kebun singkong sepanjang jalan diselingi spot-spot tempat makan dan tempat minum tradisional seolah memberi salam kedatangan kepada siapapun yang melewatinya.


Itulah salah satu daya tarik wilayah Pondok Rajeg. Namun, selayaknya wilayah perbatasan, wilayah Pondok Rajeg menyimpan cerita tersendiri. Siapapun pasti teringat, beberapa tahun silam bila memasuki kota Cibinong dari arah kota Depok maka yang tergambar adalah memasuki suatu daerah dengan jalan-jalan yang sepi dan gelap di malam hari. Suasana sunyi semakin terasa dengan banyaknya pohon bamboo sepanjang jalan yang seolah berdenyit merintih kesepian. Sebagai wilayah pinggiran, umumnya hanya kendaraan pribadi yang lalu lalang di wilayah tersebut. Bagi mereka yang kemalaman bisa dipastikan, harus berjalan dalam kegelapan sambil diliputi perasaan was-was. Boleh di bilang wilayah perbatasan Cibinong – Depok ini laksana wilayah yang tidak berpenghuni, hanya lokasi pemakaman umum, pemakaman taman makam pahlawan dan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Wajar bila saat itu wilayah ini lebih dikenal sebagai tempat “Jin buang anak” .

Tetapi itu keadaan 10 atau 15 tahun lalu. Pondok Rajeg yang saat ini kita kenal, sangat jauh berbeda. Tahun 2001 tercatat sebagai tahun perubahan. Terhitung sejak tahun itu wilayah Pondok Rajeg, yang awalnya berupa desa berubah menjadi kelurahan. Wilayah yang terbagi atas 11 RW ini seolah mulai menyadari perannya sebagai daerah penyangga strategis kota Cibinong. Mesti masih sebagai wilayah pinggiran, namun Pondok Rajeg yang ada saat ini adalah Pondok Rajeg yang mulai menata diri, sedang dan terus akan membangun.

Banyaknya aktifitas keislaman dan pembangunan sarana peribadatan berbasis swadaya masyarakat menjadi cerita lain dari perilaku sosial masyarakat Pondok Rajeg yang terkenal ramah dan saling menolong. Mesti tanpa bantuan pemerintah daerah atau pusat, beberapa masjid, mushola, Taman Pendidikan Alqurank (TPQ) dan majlis taklim berdiri secara mandiri di wilayah Pondok Rajeg. Kuatnya pengaruh dan budaya islam di wilayah Pondok Rajeg bisa dilihat dari rutinnya peringatan maulid, tablik akbar dengan pagelaran marawis di hampir setiap mushola dan masjid tiap tahunnya. Ciri keislaman ini menjadi salah satu daya tarik lain akan wilayah Pondok Rajeg.


Seiring dengan pertumbuhan masyarakat Pondok Rajeg yang makin pesat. Kecerdasan dan kesadaranm masyarakat akan masalah lingkungan pun meningkat, bahkan sejak tahun 2008 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang pengelolaannya dilakukan secara tidak benar dan cenderung merusak lingkungan telah ditutup oleh pemerintah daerah atas permintaan masyarakat Pondok Rajeg. Demikian pula simbol-simbol menyeramkan seperti lokasi pemakaman yang selama ini dijadikan sarkisme (sindiran) mereka yang tinggal di Pondok Rajeg mulai hilang dengan sendirinya. Lokasi menyeramkan tersebut saat ini bahkan menjadi salah satu tempat menarik yang terdapat di wilayah Pondok Rajeg. Ini bisa dilihat dari banyaknya orang yang berolah raga di hari minggu ataupun kegiatan masyarakat lainnya.

Demikian pula dengan dibangunnya rumah tahanan kelas II-A di Pondok Rajeg, adalah wajar apabila masyarakat berharap tidak begitu saja menambah predikat hitam atas wilayah Pondok Rajeg. Sebaliknya adanya bangunan yang merupakan asset pemerintah tersebut akan semakin menambah daya tarik wilayah Pondok Rajeg. Hal ini karena giat pembangunan tidak hanya fokus pada peningkatan sarana dan prasarana fisik seperti jalan dan perumahan, tetapi juga menyangkut pembangunan multi dimensi meliputi aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.

Peningkatan kesadaran dan peran aktif masyarakat yang ditunjang dengan dukungan kelurahan dan institusi pemerintah itulah yang menjadi kekuatan wilayah Pondok Rajeg untuk berubah. Itulah hal yang patut di syukuri. Pondok Rajeg dari beberapa sudut ternyata memberi nilai tambah. Keadaan alam dan posisi geografis wilayah pondok rejeg seakan memacu secara alami wilayah ini. Sebagaimana diketahui, wilayah Pondok Rajeg berbatasan langsung dengan kota Depok, yang dikenal sebagai salah satu kota maju yang berdekatan dengan ibukota Jakarta. Selain itu wilayah Pondok Rajeg juga tidak jauh dengan pusat pemerintahan daerah (Pemda) kabupaten Bogor yaitu Pemda Cibinong. Pesatnya pembangunan di kota depok dan pusat pemerintahan kabupaten Bogor, sewajarnya berdampak pula terhadap pembangunan wilayah Pondok Rajeg dewasa ini.

Selain keadaan alam dan posisi geografis, struktur dan komposisi penduduk wilayah Pondok Rajeg pun seperti tidak mau ketinggalan turut berperan dalam mempercepat roda pembangunan wilayah ini. Berdirinya beberapa perumahan di wilayah Pondok Rajeg, seperti perumahan LIPI, Widyatama Indah, perumahan Hankam dan beberapa perumahan lain dalam rencana- yang pada beberapa daerah kerap memunculkan konflik horizontal antara penduduk asli dan pendatang tidak terjadi di wilayah Pondok Rajeg. Sebaliknya warga Pondok Rajeg secara bersama-sama secara sadar menciptakan beragam interaksi dan mengambil manfaat dari hubungan sosial tersebut untuk peningkatan kesejahteraan secara bersama.

Seiring dengan hari jadi Bogor yang ke 527 Wilayah Pondok Rajegpun ikut berbenah. Masih banyak tugas dan perkerjaan yang harus dilakukan di Pondok Rajeg, seperti pemanfaatan lokasi eks TPA di Pondok Rajeg, penciptaan lapangan kerja bagi eks pemulung, peningkatan sarana pendidikan sekolah dasar dan menengah, pembinaan lembaga swadaya masyarakat dan sebagainya. Tentunya semua itu bukan tugas yang mudah bagi siapapun baik pemerintah daerah mulai dari perangkat kelurahan, camat dan bupati maupun pihak swasta. Namun, visi dan misi untuk menjadikan wilayah Pondok Rajeg sebagai wilayah unggulan yang makmur dan aman di Cibinong Kabupaten bogor pada umumnya harus terus dihidupkan. Adanya visi dan misi Pondok Rajeg kedepan inilah yang membuat semangat dan harapan bagi siapapun untuk betah tinggal di wilayah Pondok Rajeg.

Demikianlah sekilas pandang tentang Pondok Rajeg masa kini. Mimpi-mimpi perbaikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan wilayah Pondok Rajeg ke depan dari setiap masyarakat Pondok Rajeg adalah jawaban hari ini atas pertanyaan yang muncul dimasa depan bagaimana Pondok Rajeg nantinya….

Rabu, Desember 31, 2008

Solusi Barang Bekas Berkualitas (BBQ) di Perum Widyatama Indah


...Tanpa disadari barang-barang lama dirumah kita semakin menumpuk... dan ini terjadi hampir setiap tahun...padahal ada orang lain yang barangkali masih memerlukannya... lalu bagaimana solusinya....


Keberadaan barang bekas selain perlu ruang khusus penyimpanan, acapkali timbul masalah lingkungan seperti bau tidka sedap, penuh sarang nyamuk, sarang tikus, bahkan mengganggu keindahan rumah kita.

Barang-barang tersebut sebenarnya masih mempunyai nilai ekonomis atau masih dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Dalam arti kata barang tersebut masih dapat digunakan ulang (ReUSe), atau di daur ulang (ReCycle) bahkan diubah ke bentuk lain (ReForm). Dengan 3R konsep itulah Barang-barang lama yang masih berkualitas kita atasi..

BAZAR BBQ yang tiap tahun di adakan di perumahan Widyatama Indah bisa dinilai cukup sukses. Acara tersebut yang selalu diadakan menjelang tahun baru pada minggu pertama dijadikan sebagai sarana penjualan, pertukaran (barter), penyaluran hingga amal barang-barang lama yang masih punya nilai ekonomis namun sudah tidak lagi berguna bagi pemiliknya disekitar perumahan Widayatama Indah tersebut. Selain itu Bazar tersebut juga mempererat silaturahmi antar warga perumahan dan penduduk sekitar, yang pada beberapa wilayah seringkali memunculkan masalah sosial yang cukup komplek.

Rabu, Agustus 20, 2008

Ekspedisi Geografi dan Peringatan kemerdekaan 17 Agustus

Saat ini bangsa Indonesia baru saja memperingati hari raya kemerdekaannya yang ke 63. Tepatnya jatuh pada hari minggu lalu 17 Agusutus 2008. Hampir diseluruh pelosok tanah air, khususnya di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi masyarakat melakukan memperingatinya. Pegawai negeri sipil dan militer lewat upara 17 an di kantor, sementara masyarakat desa lewat spontanitas acara masing-masing.

Kebetulan masa kecil saya habiskan di Jakarta, jadi tahu persis bagaimana semangatnya masyarakat Jakarta menyambut setiap acara peringatan 17 an. Setiap RT menampilkan saat itu menampilkan parade apa saja, mulai dari ondel-ondel, kuda lumping dan berbagai corak lucu, selanjutnya berjalan mengelilingi kampung. Saya dan anak-anak saat itu benar-benar terkagum-kagum, bahkan sampai saat ini masih teringat beberapa orang yang selalu penuh ide dan kreatif dalam meramaikan acara 17 tersebut.

Namun, acara semacam itu saat ini semakin susah ditemukan. Sekalipun ada parade lebih banyak diwarnai kemegahan dan kemewahan. Sehingga acara tersebut hanya menjadi milik segelintir orang dan pemodal. Sementara rakyat jelata hanya bisa melihat tanpa dapat berperan.
Namun acara yang dipelopori pengurus RT 01 RW 10 kelurahan pondok Rajeg, Cibinong cukup menarik. Mereka melakukan ekspedisi geografi sekitar lokasi perumahan, lewat acara jalan santainya menyusuri lingkungan di belakang perumahan, lalu sungai ciliwung dengan airnya yang mulai dangkal hingga ke lokasi makam pahlawan. Pengenalan geografi mutlak diperlukan buat anak-anak dan generasi muda umumnya. Agar mereka mengetahui keadaan topografi wilayahnya masing-masing. Sehingga kita benar-benar memahami kondisi sekitar kita, apakah rawan bencana atau berbukit, penuh rawa, daerah tergenang dan sebagainya. Sehingga masyarakat diharapkan menjadi lebih siap dan kritis apabila terjadi sesuatu yang tidak dikendaki seperti adanya gempa bumi dimana dan kemana lokasi penyelematan (escape area), atau jalur-jalur penyelamatan (escape road).

Peristiwa bencana alam tsunami di Banda Aceh 26 Desember 2004 lalu yang menelan korban demikian besar sekitar 200 ribu jiwa meninggal atau hilang adalah karena masyarakat bukan saja tidak mengetahui apa itu tsunami dan bahayanya tetapi juga kondisi geografi kurang difahami sehingga mereka tidak tahu kemana harus menyelamatkan diri.
Semoga saja kegiatan seperti ini, semakin semarak di wilayah lain di tanah air...yaitu ekspedisi geografi sekitar...

Jumat, Mei 02, 2008

Infrastruktur Jalan Pantai Barat NAD, Pria punya selera

Selama tiga hari mulai dari 28 - 30 April 2008, saya mengikuti survei potensi GIS di kabupaten sepanjang pantai Barat NAD. Selain melihat keadaan kesiapan daerah dalam mengelola data geospasial khususnya dalam hal sumberdaya manusia, hardware dan software, program dan perencanaan, perangkat hukum termasuk mendeliver data, saya menyempatkan diri mengamati kondisi jalan sepanjang pantai barat tersebut.

Sebagaimana diketahui, kota Banda Aceh NAD dan Medan di propinsi Sumatera Utara, saat ini terhubung dengan dua jalur utama. Lewat Pantai timur melalui Kabupaten Piddie, Piddie Jaya, Bireun, Lhok seumawe, Aceh Timur, Utara kota Langsa dan Medan. Dan Jalur Barat, mulai dari Lhooknga, calang, Lamno, Meulaboh,Blang Piddie, Tapak Tuan, Subussalam dan Medan.

Boleh dibilang jalan-jalan di wilayah pantai timur bagus, hotmix dan relatif lancar mesti dalam pelebaran jalan hingga ke Medan. Namun, wilayah pantai Barat, mulai dari lhoknga ke Calang, kurang lebih 5 jam perjalanan, keadaan jalan kondisinya rusak berat. Anda sebaiknya memakai double Cabin bila ingin melewati jalur ini, kemungkinan kendaraan box speerti kijang inova susah lewat, kecuali anda memaksakan diri. Beberapa jalan baru tampak hampir selesai tetapi belum boleh digunakan terkadang kita terhibur dengan beberapa ruas jalan cukup baik. Menjelang Calang hingga tapak tuan dan bahkan ke Subussalam/singkil jalan relatif bagus, mesti terdapat lobang sana sini.

Perjalanan pantai Barat umumnya melalui pegunungan, paling tidak tiga kali kita akan melalui perbukitan dan gunung mulai dari Lhoknga hingga ke Calang. Mulai dari Tapak Tuan ke Medan, kita akan memalui pergunungan bukit Barisan dan kawasan hutan Leuser.

Kondisi jalan yang berliku-liku sepanjang pergunungan, tidak jarang membuat kita mual dan Mabok. namun anda tidak perlu khawatir, anda bisa berhenti kapan dan dimana saja, karena alamnya sangat indah. Selain pantai yang indah, anda akan menikmati luasnya perkebunan kelapa sawit terutama di wilayah Kabupaten Acah barat daya dan Aceh Selatan.

Sebelum masuk kota Tapak Tuan, anda juga bisa mandi-mandi di air terjun di kota air dingin, lokasinya persis dipinggir jalan. Anda juga bisa melihat danau toba (mesti dari kejauhan) sepanjang jalan menuju Brastagi. Anda bisa juga bermalam di tapak tuan dan membeli oleh-oleh manisan pala.

Terdapat perbedaan yang cukup kontras wilayah pantai Barat dan timur, bisa terlihat dari bentuk bangunan dan tipe budidaya masayarakat pada umumnya. Mungkin akibat kondisi topografi yang berbeda. Yang pasti wilayah pantai Barat dengan kondisi topografinya yang relatif bergunung, menuntut kerja ektra keras dari aparat pemerintah untuk membangun wilayah tersebut. Jika kalau anda punya banyak waktu, kondisi fit, kendaraan juga Oke tidak ada salahnya mencoba jalur pantai Barat mulai dari Banda Aceh ke Medan...buaknkah pria punya selera

Medan, 2 Mai 2008

Sabtu, Februari 02, 2008

Buku Baru

Buku baru tentang Peran data Geospasial dan GIS Pasca Tsunami 26 Desember 2004


Alhamdulillah, akhirnya obsesi penulisan buku selama tugas di BRR dapat saya selesai kan setelah melalui berbagai kemudahan dan tantangan. Sebenarnya, saya ingin memberi judul buku ini “Sistem Informasi Geografi (SIG) dan Bencana Tsunami 26 Desember 2004”. Judul ini diinspirasi dari undangan ESRI Internasional Conference di Sandiego Juni 2007 yang bertema “NAD Indonesia: GIS beyond Disaster”. Namun, aktivitas yang saya lakukan di Aceh tidaklah terbatas pada penerapan SIG atau GIS (Geographic Information System). Saya banyak disibukkan oleh kegiatan yang bersifat pengelolaan data geospasial dalam membantu program pemulihan NAD-Nias. Sementara aplikasi SIG dilakukan dalam rangka “memback up” kegiatan organisasi-organisasi non pemerintah /Non Governmental Organization (NGO) yang ada. Oleh karena itu, saya memberi judul buku ini “Data Geospasial di balik Program Pemulihan Aceh-Nias Tsunami: Perspektif Manajemen”.

Sebuah buku perdana tentang geospasial dan tsunami. Sebuah “lesson learn” atau hikmah ajar yang dipetik dari pengalaman saya terlibat dalam aktifitas rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004, khususnya dalam menata infrastruktur data geospasial.

Lebih dalam lagi, buku ini menguraikan bagaimana tantangan yang ada serta bagaimana saya dan teman-teman di Satuan Tugas Geospasial (STG) menjawab masalah tersebut. Buku ini juga memaparkan bentuk program kerja yang besar kemungkinan dapat diterapkan kembali untuk membantu proses pemulihan (recovery) wilayah manapun di Indonesia, yang mengalami kejadian serupa, dengan belajar dari penanganan pasca gempa dan tsunami di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Nias.

Memang sudah banyak buku ditulis tentang peristiwa tsunami, mulai dari puisi-puisi tsunami, kisah korban tsunami, sejarah tsunami maupun kisah-kisah sedih lainnya tentang bencana alam tersebut. Namun, buku yang menulis tentang proses pemulihan wilayah yang rusak akibat gempa dan tsunami terkait informasi aset data pembangunan belum banyak dilakukan. Selain kekurangan data, biasanya bahan-bahan seperti ini hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas atau disajikan dalam bentuk paper-paper ilmiah. Padahal, informasi seperti itu perlu disampaikan secara luas agar menjadi tambahan informasi di balik peristiwa gempa dan tsunami. Selama ini, masyarakat umum hanya tahu gambar-gambar foto atau data satelit wilayah terkena tsunami. Padahal, mereka perlu juga tahu bahwa di balik gegap gempitanya proses pemulihan wilayah NAD-Nias terdapat pemanfaatan teknologi geospasial dan peninggalan aset data yang sangat berguna nantinya. Bagaimana status data dan siapa saja yang berperan di balik proses itu belum tercatat dalam referensi dan belum ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh umum.

Tujuan penulisan buku ini sederhana, yaitu berbagi pengalaman atau belajar dari pengalaman dalam mengelola data geospasial untuk mendukung pemulihan wilayah NAD dan Kepulauan Nias. Siapa pun bisa membaca buku ini bila ingin memahami peran data geospasial di balik proses pemulihan NAD-Nias pasca gempa dan tsunami 26 Desember 2004, bentuk pengelolaan dan kebijakan penyediaannya, baik sebagai referensi maupun masukan dalam menyusun kebijakan. Lebih jauh lagi, buku ini mengupas persiapan pembentukan tim pemetaan cepat (rapid mapping team), tantangan dan lingkungan kerja yang kompetetif dan terkadang memancing emosional. Beberapa contoh penggunaan data geospasial dalam bidang perencanaan desa, pembangunan infrastruktur jalan dan energi disampaikan secara sekilas.

Buku ini juga sebagai salah satu cara penghormatan saya terhadap korban gempa dan tsunami 26 Desember 2004, yang mudah-mudahan Allah SWT memberikan tempat yang layak disisi-Nya sesuai dengan amal perbuatan masing-masing. Selain itu, tulisan ini sekaligus sebagai dukungan saya kepada korban tsunami yang masih hidup atas kesabaran dan ketaqwaan mereka dalam menerima musibah dan telah bahu membahu untuk mengembalikan kehidupan ekonomi, sosial dan lingkungan menjadi lebih baik.

Sesuatu yang saya alami sendiri itulah modal utama dalam melahirkan kata demi kata dalam buku ini. Sebagian orang beranggapan bahwa menulis pengalaman jauh lebih ringan ketimbang menulis sesuatu yang bersumber dari hasil kajian atau penelitian.

Buku ini dimulai dengan sistematika penulisan berupa kupasan pengalaman dalam mengelola data geospasial pada masa tanggap darurat, termasuk kesulitan memperoleh data, konflik internal dalam tim hingga buruknya koordinasi pekerjaan (Bab 1). Selanjutnya, masa pemulihan oleh BRR, mulai dari persiapan keberangkatan tim ke Aceh dan kendala yang ada baik teknis, administratif maupun struktural (Bab 2). Aktifitas pemotretan dan pemetaan dasar rupabumi wilayah NAD dan Nias yang terkesan lambat dikupas dalam Bab 3. Aktifitas pemetaan tematik sumber daya alam dan lingkungan serta tematik sektoral yang kurang mendapat perhatian oleh BRR dan Pemerintah Daerah dibahas dalam Bab 4. Sementara servis peta dan support aplikasi GIS ke NGO yang penuh tantangan dan penyusunan database geospasial yang membosankan dan terkesan lambat, masing-masing dibahas dalam Bab 5 dan Bab 6. Sementara pembinaan infrastruktur data geospasial propinsi sebagai bagian dari capacity building di NAD-Nias yang merupakan aktifitas paling akhir dan paling sulit karena banyaknya kepentingan dibahas dalam Bab 7. Terakhir, Bab 8 yang membahas perspektif pengelolaan data geospasial wilayah bencana. Bab-bab tersebut di atas tersusun berdasarkan urutan pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan di BRR. Untuk detilnya silahkan baca bukunya...insyaallah segera terbit

Sabtu, Januari 26, 2008

Sekilas belajar ke negeri Jepang

Kenapa belajar ke luar negeri?

Pilihan melanjutkan belajar ke luar negeri menjadi harapan hampir semua PNS dan tenaga pengajar perguruan tinggi (dosen), bukan hanya ada di Indonesia tetapi merupakan fenomena di semua negara berkembang di Asia maupun Afrika. Negara-negara yang menjadi incaran belajar umumnya adalah negera maju seperti Jepang, Amerika serikat, negara-negara eropa (Jerman, Inggris, Belanda) dan Australia, meski tidak sedikit pula yang melanjutkan belajar ke negera seperti Malaysia, India, Filiphina dan Thailand, bahkan Indonesia sendiri. Berbagai fasilitas belajar yang ditawarkan seperti beasiswa, fasilitas belajar, asrama, lingkungan, hingga adanya kesempatan kerja paruh waktu (part time job) yang dianggap masih lebih baik dari yang ditawarkan di dalam negeri menjadi alasan utama memilih belajar di luar negeri.

Negara Jepang menawarkan dua jenis beasiswa untuk pelajar asing yaitu: yang ditawarkan pemerintah jepang lewat departemen pendidikan (Monbukagakusho) biasa disebut kokuhi ryugakusei dan yang dari fihak swasta atau shihi ryugakusei. Tulisan ini hanya terbatas beasiswa dari pemerintah Jepang.

Kenapa memilih Jepang sebagai tempat belajar?

Jepang menjadi salah satu tujuan studi lanjut bagi pelajar asing dari sekitar 166 negara. Pelajar Indonesia menempati urutan ke 10 terbesar dan terbanyak adalah mereka yang menempuh studi diwilayah kanto terutama pada universitas Tokyo sekitar 80-an mahasiswa.

Berbeda dengan shihi ryugakusei, begitu anda diterima sebagai mahasiswa monbukagakusho, bukan hanya universitas atau sekolah tetapi tempat tinggal anda pun telah ditentukan. Setelah kedatangan di Jepang, maka anda akan mendapatkan kursus bahasa jepang wajib untuk waktu tertentu (6 bulan – 2 tahun) dan selanjutnya anda akan mengikuti test masuk universitas. Adanya sistem ini yang seringkali kurang diketahui pelamar atau sekretariat kantor dimana kita bekerja. Mesti anda sudah dipastikan lulus seleksi beasiswa monbukagakusyo dalam negeri, bukan berarti anda langsung dapat masuk universitas di Jepang tanpa melalui test seleksi masuk universitas. Seleksi Monbukagakusho di dalam negeri hanya memberikan beasiswa kepada anda sebagai research student selama maksimum 2 tahun untuk yang berangkat april atau satu setengah tahun untuk anda yang berangkat oktober. Selama masa research student tersebutlah anda akan menyiapkan diri mengikuti test masuk universitas di Jepang.

Masa reseach student merupakan masa-masa yang paling sulit, bahkan umumnya banyak menimbulkan stress pada mahasiswa. Pada masa tersebut, selain wajib mengikuti kursus bahasa jepang anda harus pula menyiapkan diri ikut ujian masuk universitas pada bulan-bulan tertentu. Setiap universitas atau departement mempunyai jadwal ujian yang berbeda, umumnya sekitar Pebruari, Sseptember, atau Oktober. Dengan kata lain, bila anda lulus ujian masuk universitas maka beasiswa akan otomatis diperpanjang sampai selesai studi (S1, S2, S3) anda. Namun apabila gagal maka monbukagakusyo akan menghentikan beasiswa dan hilanglah harapan untuk meraih gelar di Jepang. Dalam beberapa kasus (terutama program Internasional) kursus bahasa jepang hanya pilihan sehingga anda bisa konsentrasi menyiapkan ujian masuk.

Jadwal keberangkatan, penempatan, dan lokasi kursus bahasa umumnya telah ditetapkan oleh monbukagakusyo seperti tersaji dalam tabel 1. Selain beasiwa rutin tiap bulan, anda juga akan menerima bantuan dana untuk studi lapangan dan rekreasi setiap 6 bulan, dana riset dan seminar keluar negeri, jaminan kesehatan dan kesempatan kerja paruh waktu baik sebagai Teaching asistant (TA) ataupun Research Asistant (RA). Bagi yang membawa keluarga, maka tunjangan keluarga dan tunjangan kelahiran akan anda terima dari pemerintah jepang.

Tabel 1. Jawal belajar dan kursus bahasa Jepang monbukagakusyo.

Kategori

Jadwal keberangkatan

Tempat dan lama kursus bahasa jepang

Penempatan belajar

Lama dan Besarnya beasiswa*

Perpanjangan

Research student (graduate student)

1-7 April atau Oktober

Universitas, selama 6 bulan

Universitas yang ditetapkan

2 tahun, 185.500 yen

bisa

Under-graduate student

April 1-7

Pusat kursus bahasa jepang di universitas tokyo, atau universitas Osaka, selama 1 tahun

Universitas yang ditetapkan

5-7 tahun, 142.500 yen

Bisa

Teacher training

Oktober 1-7

Universitas yang ditetapkan selama 6 bulan

Universitas yang mempunyai program studi pendidikan

1-1/5 tahun,185.500 yen

tidak

Special training college student or college of technology students

April 1-7

Institute kebudayaan bahasa jepang selama 1 tahun

Universitas yang mempunyai program studi teknologi

2-4 tahun, 142.500 yen

bisa

*) besarnya beasiswa dapat berubah sewaktu-waktu, nilai ini adalah patokan sampai penerimaan tahun 2002

Bagaimana mensiasati agar lulus seleksi dan lulus ujian masuk?

Prosedur penerimaan beasiswa monbukagakusyo di Indonesia terbagi atas Jalur G to G dan U to U. Jalur G to G atau Government to Government umumnya untuk pegawai negeri sementara U to U atau University to University khusus para staf pengajar universitas. Setiap tahun monbukagakusyo memberikan kesempatan total kepada sekitar 40 orang untuk studi lanjut S2 dan S3 di Jepang. Seleksi penerimaan umumnya dilakukan pertengahan tahun.

Proses penseleksian beasiswa monbukagaku dalam negeri sebenarnya tidak terlalu sulit. Terdapat dua tahapan utama: seleksi proposal dan interview. Yang perlu anda persiapkan adalah membuat “proposal penelitian” dan mencari “rekomendasi profesor” dari universitas di Jepang dan sebaiknya pula ditambah dari universitas tempat anda belajar selama ini. Proposal harus singkat, jelas, memuat tujuan, metodologi ilmiah dan hasil yang diharapkan, boleh dalam bahasa inggris atau bahasa jepang. Satu hal yang penting yang harus ada dalam proposal penelitian adalah kesan bahwa riset anda memang hanya dapat dilakukan di Jepang atau dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan hubungan antara negara Indonesia dan jepang. Thema dan materi proposal dalam pelaksanaanya nanti sangat besar sekali berubah tergantung diskusi lanjut dengan profesor pembimbing.

Rekomendasi profesor sangat berguna di saat interview, oleh karena itu usahakan mendapatkan “letter of acceptance” dari profesor di jepang. Semakin terkenal nama profesor semakin besar kesempatan anda lolos seleksi, namun semakin banyak pula saingan anda dan semakin besar tingkat kesulitan anda. Nama profesor dapat diperoleh lewat rekomendasi kawan atau searching di internet dan buku-buku pedoman studi yang bnanyak tersedia di kedubes Jepang. Dalam beberapa kasus profesor di Jepang sangat antusias membantu kita, oleh karena itu sebisa mungkin melakukan komunikasi aktif dengannya

Setelah dinyatakan lolos seleksi, anda akan menerima pemberitahuan dari pemerintah Jepang melalui sekretaris kabinet (sekab) untuk PNS dan kedubes jepang untuk yang non PNS, termasuk persiapan keberangkatan dan jadwal keberangkatan. Mahasiswa asing yang pertama kali datang ke jepang, sudah pasti mengalami kesulitan komunikasi dan kekagetan budaya (culture shock). Belum lagi kenyataan bahwa dia harus menyiapkan ujian masuk universitas dan penyesuaian dengan iklim yang dingin. Namun suasana lingkungan dan keramahan hidup masyarakat Jepang akan membantu anda membiasakan diri hidup ditengah budaya unique yang hanya da di jepang.

Beberapa tip yang sangat membantu untuk bisa lulus ujian masuk universitas di Jepang:

1. Usahakan menjaga hubungan baik dengan profesor anda. Berbicara sebanyak mungkin dengan bahasa jepang dengan rekan anda di laboratorium. Khusus anda yang muslem sebaiknya sedini mungkin menginformasikan status anda untuk menghindari kesalah fahaman di kemudian hari.

2. Tunjukan kesungguhan anda dalam belajar, dengan rutin datang ke laboratorium, ikuti seminar, mengucapkan salam (ohayo gozaimasu) setiap bertemu, usahakan memperoleh bahan-bahan dan soal ujian masuk baik dari profesor ataupun rekan se laboratorium.

3. Jangan pernah berfikir atau menanyakan masalah pribadi (asrama, prosedur bawa keluarga, kerja paruh waktu) kepada profesor atau rekan se laboratorium sebelum anda lulus ujian masuk universitas dan hindari masalah dengan kepolisian.

4. Last but not least, jaga mental dan kesehatan dan banyak bergaul dengan sesama pelajar Indonesia (Persatuan Pelajar Indonesia-PPI). Semoga sukses...selalu....