Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 31, 2008

HAPPY NEW YEAR 2009

SELAMAT TINGGAL TAHUN 2008...SELAMAT DATANG TAHUN 2009...

SEMOGA DI TAHUN 2009 KEHIDUPAN KITA MENJADI LEBIH BAIK...
BBM TURUN HARGA-HARGA TURUN DAN ONGKOS ANGKOT TURUN..
TUNJANGAN DAN GAJI NAIK...REZEKI NAMBAH.
BISA MEMPERBAIKI RUMAH...
BISA MAPAN DALAM KARIR DAN BEKERJA ...
MENANTI KEDATANGAN SI KECIL ...
TERHINDAR DARI NAFSU DAN GODAAN SYETAN UNTUK BERBUAT MAKSIAT.
BERTAMBAH KETAQWAAN DAN IBADAH KEPADA ALLAH SWT...
SEMAKIN TAWADLU DAN SABAR...
RAJIN MELAKSANAKAN IBADAH...
GEMAR BERAMAL DAN SHODAQOH....
SEDIKIT MUSUH DAN BANYAK TEMAN ...
MELAKUKAN HAL LUAR BIASA DENGAN HAL YANG BIASA ...AMIN

Minggu, Februari 03, 2008

Kawan Saya Techang (itokazu)

Perasaan Lega dan sedih bersatu saat ketemu dua kawan lama beberapa waktu lalu, di Tokyo. Kami menghabiskan waktu hingga pukul 2 dinihari di sebuah restorant tradisional Jepang. Bukan romantisme ini yang menarik untuk ditulis tapi satu ucapannya yang membuat saya lega adalah, salah seorang dari mereka techang berkata “Dia memahami dan mengerti mengapa islam melarang umatnya meminum alkohol, karena memang alkohol lebih banyak merusak daripada manfaatnya”. Hanya satu yang belum sempat saya jelaskan ke dia adalah pertanyaannya “Ia sudah faham akan bahaya alkohol terhadap tubuh, namun dia belum bisa mengerti kenapa Islam melarang makan babi”. Menurutnya babi itu makanan yang enak bermanfaat buat tubuh, disediakan buat manusia. Kenapa yang baik juga di larang ?. Lanjutnya “Alkohol dilarang karena ada proses manusia untuk menambah kadar alkohol sehingga bisa membahayakan tubuh, sementara babi tak ada peran manusia didalamnya apa nya yang salah dari babi?.

Lega, karena akhirnya dia bisa menemukan kebenaran dari sikap saya yang menolak minum alkohol. Memang kuliah kami sering bersama, dia selalu mengoda saya untuk minum alkohol tetapi selalu saya tolak. Mesti saya tak pernah membacakan satu dalil alquran pun tentang itu, apalagi mengajaknya tak minum. Kami biasa bertemu dikampus rutin selama dua setengah tahun. Kawan tetap praktekum dan survey lapangan hingga riset, Ia kerap mampir kerumah untuk sekedar menikmati teh Java. Ia pula yang telah menyempatkan diri menemani saya menjemput keluarga di Narita, membantu kepindahan ke apato, mencarikan kendaraan, dan berbagai nilai persahabatan lainnya yang telah saya dan keluarga terima selama di jepang. Boleh dibilang ia telah menjadi sahabat Jepang pertama saya & keluarga, bahkan saking dekatnya kita saling memanggil dengan sebutan nama kecil. Dari proses pergaulan itulah Ia tak sengaja mengenal isla. Dia sendiri boleh dibilang tidak beragama, sebagaimana umumnya orang Jepang. Dia juga banyak tahu tentang amalan-amalan di Islam seperti sholat, termasuk ketentuan islam tentang larangan minuman beralkohol, makanan-halal, dan pakaian. Sesuatu yang selama ini dia, dan kemungkinan orang jepang pada umumnya, tak pernah tahu. Tentu bertolak belakang dengan realitas hidup mereka yang tak lepas dari informasi tiap harinya.

Sedih, karena mungkin penjelasan saya tentang babi dan makanan haram (tidak halal) ternyata tak memuaskannya selama ini. Apalagi saat ini hubungan saya dan dia tak seperti dahulu lagi yang mempunyai banyak waktu bertemu. Saat ini sebagai dosen di Nagoya University, tentunya dia sibuk, pertemuan inipun dalam rangka seminarnya di Tokyo dan ia minta saya membantunya mengedit draf papernya yang dia tulis dalam bahasa Inggris. Seandainya dia muslim tentu penjelasan saya akan mudah ditangkap. Karena berbeda halnya dengan seorang muslim yang berangkat sesuatunya dari keyakinan akan kebenaran agama islam, sehingga segala pencarian dan penemuannya yang terlihat tak logis akan dikembalikan kepada keyakinan dasarnya. Sementara bagi non muslim mencari dan mendapat keyakinan setelah menemukan fikiran dan penjelasan yang logis.

Oleh karena itu, menurut saya pribadi, kebenaran agama itu nilainya subjectif bukan objektif. Sebagai mana diklaim orang. Kita tak bisa memaksakan kebenaran Islam kepada orang non Islam. Islam subjektif karena hanya diakui dan diyakini benar oleh penganutnya. Seorang baru mendapakan keyakinan penuh tentang islam manakala dia telah sepenuhnya menjadi islam. Sehingga wajar seorang missionaris, mesti pun banyak pengetahuannya tentang islam (islamologis) dan mendapatkan hal yang logis dalam agama islam, karena dasarnya tak yakin maka tetap tak menjadi islam.

Sabtu, Februari 02, 2008

Tentang GAM

GAM dalam Pandangan orang Awam

Belum lama dalam kesempatan berlibur bersama keluarga di Pulau Rubia, Sabang, saya bertemu dengan Muzakir Manaf, mantan Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka (GAM), salah satu tokoh yang paling dicari-cari tentara selama konflik. Sekilas tidak ada kesan seorang mantan kombatan (sebutan tentara di GAM) darinya, bahkan boleh dibilang dengan wajahnya yang tampan, bicaranya halus dan sopan lebih mengesankan bila dia seorang fotomodel atau pemain sinetron. Saya sempat bicara yang ringan-ringan cukup lama dengannya. Meski agak menyesal juga kenapa tidak sempat berfoto bersama. Karena saat itu Saya tidak ingin mengganggu privasinya apalagi sekedar ingin berfoto. Dia sempat heran kenapa saya bisa mengenalnya. Saya katakan supir rental dan guide yang mengatakan kepada saya. Selain itu siapa yang tidak mengenal dia saat ini di Banda Aceh, banyak tulisan tentang dia, kebetulan pula saya beli beberapa buku sekitar konflik Aceh yang banyak menyebut namanya. Saya pernah juga melihatrekaman vidionya sewaktu masih aktif gerilya di hutan-hutan di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Di BRR, saya kenal dan bergaul beberapa orang GAM, mulai dari kombatan, Kepala perwakilan GAM eropa hingga simpatisan. Rata-rata yang saya temui sangat sopan dan berpengetahuan luas meski ada juga yang terlihat kasar. Bagi yang kasar, barangkali ini terjadi karena mereka orang lapangan dan agak kikuk berhubungan dengan orang luar, apalagi dari Jawa yang konon selama ini mereka di okrin untuk menganggap sebagai musuh atau mata-mata tentara.

Beberapa diantara mereka ada juga yang agak kampungan, pernah sekali waktu rumah saya dititipi salah seorang kombatan GAM. Karena dia baru saja datang dari Pidie dan diterima bekerja, tetapi tidak punya tempat tinggal. Dia menempati kamar di lantai atas lengkap dengan kamar mandi, lemari dalam dan pendingin ruangan (AC). Malam hari datang kawan-kawannya sekitar 5 orang, mereka bertanya dimana si “AGAM”, saya bilang di atas, langsung mereka naik ke atas tanpa ucapan terima kasih atau basa-basi bicara dengan saya sebagai tuan rumah. Rupanya semalaman si AGAM tidak bisa tidur, dia kedinginan dan menanyakan cara matikan AC. Si AGAM sempat tinggal sekitar 1 minggu di rumah saya. Dia tidak pernah bicara sepatah katapun ke saya karena memang kami jarang ketemu. Akhirnya dia mendapat rumah kontrakan dan pindah. Saat pindah malam hari, itu pundia tidak bertegur sapa. Belakangan kami bertemu, rupanya dia lebih dulu mengenali saya, saya sendiri sudah lupa wajahnya karena hanya bertemu malam hari. Dia minta maaf karena waktu itu tidak sempat pamit, dia tidak ingin mengganggu saya dikamar karenanyadia pergi begitu saja. Pertemuan inipun tidak sengaja, saat itu supir saya berhalangan, dan dia dikirim sebagai supir pengganti oleh kantor. Setelah beberapa kali bertemu saya mulai mengenalnya, ternyata dia tidak seperti yang saya bayangkan, boleh dibilang dia terlalu lugu. Sekarang kami sering bincang-bincang disaat dia mengantar saya ke suatu tempat pertemuan. Rupanya dia cukup rajin ke mushola kami sering bertemu sesudahnya.

Saya lihat ada beberapa kelompok di GAM, yaitu kelompok yang sangat alim dan taat menjalankan ibadah juga pandai berdakwah. Saya kenal beberapa diantara mereka aktif di BRA (Badan Reintegrasi Aceh). Mereka umumnya masih sangat dekat dengan kehidupan munasah (mushola di kampong), pesantren (dayah). Umumnya mereka menyambut gembira dengan diperlakukannya Aceh sebagai daerah khusus dan diterapkannya syariat Islam. Rata-rata mereka juga tidak pernah membunuh selain tentara selama konflik, sebaliknya harta benda mereka ludes karena konflik. Mereka sangat ramah terhadap saya. Kami biasa ketemu di masjid selepas bekerja, bahkan kami bermain badminton bersama selepas kerja.

Kelompok kedua, lebih banyak lagi jumlahnya mewakili kepentingan politis seperti demokrasi, perjuangan ketidakadilan, kepemimpinan dan pelanggaran HAM. Mereka selalu mengkritik pengurasan sumberdaya alam Aceh oleh pemerintah pusat, tidak adanya kejelasan sidang pelanggaran HAM dan sebagainya. Kelompok ini sedikit banyak masih bisa menerima perdamaian Helsinki, selama kepentingannya dan tujuan politisnya terpenuhi. Namun demikian fikiran lama yang kritis seringkali dilontarkan secara terbuka. Bahkan di kantor sendiri saya masih sering mendengar mereka bicara tentang ini, pernah sekali waktu saya terlibat diskusi dengans alah satu dari mereka dan dia sempat memperingatkan ..” bapak Darmawan jangan sampai berfikiran bahwa kehadirannya di BRR untuk menjaga perdamaian..ini masalah politis..”. Saya jawab “Betul, saya tidak terkait politik, justru karena damai saya mau datang”. Sebaliknya juga saya sempaikan ke dia “bahwa hendaknya dia juga jangan berfikiran kehadirannya dalam rangka mengacaukan perdamaian, karena ini fikrian separatis lama dan bisa berbahaya..” Sejak itu, kami jarang ketemu dan tidak terlalu sering bersama, padahal kami sering main tennis bersama. Kelompok kedua ini masih cukup baik pengamalan ibadah sehari-hari, seperti sholat 5 waktu, puasa dan pengetahuan tentang islam, mesti terkadang selalu mengagungkan kejayaan islam di Aceh. Umumnya mereka cukup berpendidikan.

Kelompok ketiga, adalah mereka yang kecewa karena diperlakukan tidak manusiawi. Mereka menyaksikan sendiri orang tua, anak, istri dan saudara mereka dibunuh, diperkosa atau hilang. Harta merekapun habis dibakar selam konflik. Mereka inilah kelompok yang punya rasa dendam dengan tentara, pemerintah pusat dan orang dari luar. Umumnya mereka kurang berpendidikan. Dengan adanya perjanjian perdamaian mereka hanya berharap dapat hidup normal, dan dapat pekerjaan. Basis idiologi agama lemah dan kepentingan politis tidak ada.

Kelompok lain adalah dari kalangan penjahat dan menghalalkan segala cara. Umumnya mereka dekat dengan kelompok ketiga. Mereka biasa merampok, tanam ganja dan memeras. Kelompok ini yang sangat sulit dikendalikan, Karena struktur organisasinya tidak jelas, mereka hanya menyukai kehidupan bebas, basis ideiologi dan agamanya juga tidak ada. Bahkan menurut rekan saya, terkadang mereka mabuk-mabukan.

Beruntung saya saat ini bisa berteman dengan AGAM-AGAM yang baik. Saya tidak peduli dengan AGAM yang ingin menjadi bupati…karena memang mereka sudah terlalu lama tidak mendapat keadilan dari pemerintah pusat…

Rabu, Januari 30, 2008

Perilaku ekstrim karyawan

Waktu masih menunjukkan pukul 10.00 WIB saya melihat sudah ada beberapa karyawan BRR yang sudah datang termasuk dua dari lima staf di tim geospasial dimana saya di amanahkan menjadi team leader. Saya terbiasa datang awal di kantor bukan karena sebagai ketua tim tetapi supir yang menjemput sya terlalu rajin. Pukul 7 pagi supir sudah datang dan biasanya saya baru berangkat pukul 7.30 sekitar pukul 8 sudah sampai dikantor. Jam kantor resmi sesuai peraturan yang dikeluarkan kepala adalah pukul 8.30 hingga pukul 17.00. Secara diam-diam saya mengamati perilaku karyawan di ruangan. Tiada manusia yang sempurna itulah rambu-rambu yang saya ketahui.Namun dalam ketidak sempurnaan manusia saya tetap harus menilai perbuatan baik diantara mereka sebagai pembelajaran untuk perbaikan pribadi.

Ada perilaku ekstrim diantara dua karyawan/staf yang saya lihat inilah gambaran perilaku mereka.

  1. Ada staf yang biasa datang ke kantor siang (biasa datang di atas jam 10 bahkan beberapa kali jam 11.30 karena harus ke bengkel dahulu atau karena ketiduran sehabis sholat malam mesti selalu lapor akan keterlambatannya), biasa berangkat setelah sholat dhuha, rajin ke masjid dan sholat tepat waktu, sering lama di masjid bisa lebih dari 1 jam (entah zikir atau istirahat siang), mengharamkan tv, musik kecuali instrumentalia, nasyid dan suara alquran yang sering diputar dan kadang sampai ke telinga saya seolah ingin mengatakan inilah yang benar. Rajin bayar zakat, suka mengingatkan orang akan wajib zakat, halal dan haram karena dianggap juga kebathilan bila dibiarkan, punya obsesi jadi ustad karena merasa tahu agama atau jadi pejabat eselon dikantor. Kualitas kerja biasa-biasa tidak terlalu menonjol bahkan terkesan lamban. Punya kepercayaan diri tapi susah menerima sesuatu yang baru, tidak suka kritik dan menyampaikan secara terus terang ketidaksukaanya sehingga perlu penjelasan logis kenapa kita mengkritiknya. Tidak banyak bertanya dalam hal pekerjaan mesti belakangan diketahui bahwa dia tidak tahu. Tidak suka oprek-oprek komputer atau eksplore aplikasi sehingga terkesan gaptek. Dalam keseharian Irit dan terkesan pelit dan cuek kepada yang lain termasuk atasan. Selalu makan snack sambil bekerja, tetapi tidak pernah menawarkan makanan yang sedang dimakan kepada rekan lain. Sekilas hanya memikirkan kepentingan pribadi. Tanpa salah kadang pulang jam 17.00 atau selepas magrib. Galak dan tegas terhadap karyawan di bawah
  2. Ada staf lain yang datang pagi, tidak sempat sholat dhuha dirumah karena berangkat pagi, dan dikantor karena kesibukan sering lupa sholat dhuha dikantor disamping juga tidak ada tempat kecuali dia pergi ke mushola, sholat 5 waktu juga ontime dan tidak berlama-lama di masjid kecuali dia sakit dan istirahat di masjid, tidak tahu apa suka sholat malam dan bayar zakat karena tidak pernah bicara tentang ini. Tidak pantang menyetel musik mesti amat jarang mendengarkan, tidak diragukan kemampuan kerjanya dan penuh inovatif, sedikit royal kepada teman dan perhatian kepada atasan, tidak suka menasehati orang terkesan cuek karena dianggap sudah dewasa tetapi selalu menjadi tempat bertanya rekan lain. Pulang selalu paling akhir karena eksplore komputer dan mencari berbagai aplikasi pendukung kerjanya. Tidak percaya diri untuk tampil kecuali terpaksa. Tidak peduli kritik, akrab dengan bawahan dan easy going tetapi tidak suka dinasehati soal agama terlebih halal haram.


Selasa, Januari 29, 2008

interaksi sosial

Cukup puas juga saya bisa mengikuti beberapa kali pertandingan badminton di kantor Bappeda, meski saya tidak terlalu baik dalam bermain. Kepuasan saya bukan karena bisa bermain badminton yang notebene mewakili satuan kerja saya di BRR atau ditonton beberapa orang yang selama ini tidak menyangka saya juga menyukai olah raga, bukan itu melainkan, saya baru mengerti beberapa hal tentang teman2 di Aceh khususnya tentang Agam (baca orang muda aceh).

Pertama, ternyata kehidupan Agam tak bisa lepas dari kopi dan rokok. Di Kota Banda Aceh terdapat kedai kopi khusus untuk mereka dan sangat terkenal, yaitu kedai kopi “Chek Yuke”. Bahkan BRR pernah memboyong kedai chek yuke sebagai stand kopi dalam sebuah seminar di Jakarta. Kedua, dalam kehidupan beragama, agam umumnya tidak suka dikatakan tidak tahu agama atau diberi nasehat tentang ibadah praktis, meski dalam prakteknya sering dijumpai mereka lalai dalam sholat ataupun sholatnya tidak benar. Ketiga, ternyata Agam sangat sensitif dan tertutup dengan orang luar terutama pendatang dari Jawa. Sehingga boleh dibilang agak sukar menjalin komunikasi atau keakraban dengan agam, sebelum mereka mengenal betul tentang kita.

Saya coba bandingkan dengan anak-anak muda dari jepang (nihonjin) yang pernah saya kenal waktu lalu. Pertama, ternyata kehidupan nihonjin tak bisa lepas dari yakyu, sake, bir dan susi. Kedua, dalam kehidupan beragama, nihonjin umumnya lebih suka dikatakan tak beragama atau tak percaya tuhan ataupun bila memilih agama ya pilihannya lebih tertarik ke kristen daripada ke islam atau agama lain. Yang ketiga, ternyata Nihonjin suka juga bergunjing termasuk juga berbasa-basi memuji seseorang, terlebih saat makan bersama

Bagi Agam, kopi di kedai seperti menjadi bagian sendiri shedule harian mereka boleh dibilang tiada hari tanpa kopi. Dalam satu hari bisa lebih dari 5 kali meski barangkali di rumah juga sudah ngopi. Lewat ngopi mereka menemukan dunianya, bebas bercerita, bergunjing dan membicarakan bisnis antar mereka. Bahkan di kedai kopi dengan ramahnya mereka menyapa kita dan memulai pembicaraan, yang barangkali akan terasa aneh kalau itu dilakukan diluar kedai kopi. Sepertinya menemukan kepercayaan diri dengan ngopi.

Bagi Nihonjin, lewat bir mereka menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang luar biasa. Nihonjin yang mabuk, dengan seketika secara ringan ceplas-ceplos bahasa inggris dengan setiap orang asing. Setiap orang asing yang dimata mereka orang Amerika-sama halnya kebanyakan orang indonesia, bila melihat bule maka disangka mereka orang barat, padahal boleh jadi orang rusia atau ornag eropa timur. Dalam keadaan sadar, sangat jarang mereka berbicara bahasa inggris sama seperti belajar berkicaunya seekor karasu (gagak hitam). Lidah terasa kaku kalau bicara bahasa inggris atau ketemu orang asing, ini menurut pengakuan Kato kun (yunior saya waktu kuliha). Wajar mereka butuh banyak bir. Bir telah menjadi minuman utama, mesti dalam berolahraga sekalipun, Iklan coca-cola di jepang menjadi,” dimana saja, kapan saja dan siapa saja minum bir”. Sake (bir Jepang) sebagai minuman pamungkas, dan susi (ikan mentah plus sedikit nasi) sebagai penambah selera dan yakyu (olah raga softball) sebagai spiritnya. Sehingga wajar penutupan yakyu atau wakarekai konpa (pesta perpisahan), susi dan bir tersaji melimpah.

Bagi Agam, sangat jelas mereka adalah orang islam dan hampir tidak yakin ada Agam yang punya agama di luar Islam. Mereka bangga dengan banyaknya dayah (pesantren) di pelosok kampung dan membanggakan diri bahwa mereka tinggal di serambi Mekah. Mereka tidak suka melihat wanita tidak mengenakan pakaian muslimah atau lelaki mengenakan celana terlalu pendek, karena dianggap tidak menutup aurat. Bahkan sebagian mereka sangat fanatik menyatakan sebagai keturunan said (keturunan nabi) ataupun keturunan Turki (karena dikaitkan dengan sistem kekhalifahan). Padahal seringkali mereka sholat tidak berjamaah.

Bagi nihonjin , mereka tak melihat beda prinsip antara jadi orang kristen dan jadi orang jepang, di kristen merekapun masih mendapatkan kebebasan minum bir, bahkan lewat pergaulan dengan rekan seagamanya makin bertambah pengetahuan mereka akan minuman beralkohol. Coba tanya berapa persen orang jepang yang tahu bahwa di Brasil (negaranya Ronaldo) ada sake lokal (baca sake-Brasil yang alkoholnya 40%, di Nepal semodel sake lokal alkoholnya lebih tinggi lagi sampai 50-60%, belum lagi di argentine, boleh dibilang sebagian besar nihonjin tahu tentang ini sampai profesor (sensei) saya menyimpan sisa minuman yang tak habis diminum dari berbagai negara.

Bagi nihonjinn, mereka melihat betapa mendoksainya (repot) jadi penganut Shinto, karena menurut Maika san (masih yunior saya yang dulunya penganut setia), tiap hari dia harus menyediakan sake ke patung sebagai tanda terima kasih, padahal dia ingin juga meminum sake tersebut. Belum lagi aturan-aturan lainnya seperti pesta perkawinan, menurut Hideki Saito san, kawan kerja saya di kenkyujo (lembaga penelitian) trend ABG jepang sekarang mereka lebih suka hidup bersama tanpa nikah, karena, siapapa yang bersedia membayar sampai 500 mank (1 mank setara dengan 10 000 yen) untuk sebuah perkawinan secara Shinto dalam situasi ekonomi krisis seperti ini. Sebagian lain memilih cara kristen, meski belum tentu beragama Kristen karena menawarkan paket murah antara 100-200 mank.

Tentang kebiasaan bergunjing dan memuji baik Agam dan nihonjin hampir tiada bedanya. Ternyata gosip juga sudah seperti bagian dari informasi yang mereka serap. Sudah hal umum kalau sebenarnya mereka suka bercerita tentang kabar yang sampai ke mereka tentang orang luar sambil minum bir atau kopi.

Nah tentunya banyak lagi pelajaran-pelajaran yang memuat pencerahan lain yang tak sanggup saya uraikan, Cuma lalu relevansinya kemana Antara nihonjin dan Agam. Gampangnya begini, waktu tinggal di Jepang saya selalu berfikir bila ingin dekat dengan orang jepang atau ingin mereka manjadi bagian terdekat kita maka saya benar-benar harus dipertimbangkan langkah seperti:
  1. Belajar olah raga yakyu, gemar makan susi dan jangan menolak bila ditawari minum bir, atau sake dalam setiap konpa.
  2. Katakanlah kepada mereka, bahwa islam tak melarang mereka minum alkohol mesti mereka jadi muslim. Ajak mereka ke islam dengan menekankan kalau mereka sebenarnya masih diperbolehkan minum bir, atau sake karena sekali lagi mereka nihonjin. Mereka sendiri lah yang menentukan kapan berhenti minum, bukan kita. Bukankah Nabi tidak menyuruh seorang yang kebiasaannya mencuri untuk berhenti mencuri saat yang bersangkutan tertarik masuk islam. Hanya nabi berpesan “jangan berbohong”. Lagipun turunnya pelarangan minuman beralkohol tidak seketika, melainkan bertahap. Akan tetapi perlu juga diingat perkataan Syaidina Umar, didepan orang-orang yang minta diperioritaskan dalam berislam, bahwa dahulu saat lemah islam membutuhkan kalian, sekarang islam sudah jaya dan kalianlah yang butuh islam “.
  3. Janganlah merasa lebih pandai dari orang Jepang atau mengunjingka mereka, karena mereka akan menilai bahwa nanti bakalan digunjing oleh kita, tapi ikuti saja gunjingan mereka sambil menikmati santapan yang tersedia.
  4. Bersikap sopanlah dengan mereka Nihonjin dikenal sebagai bangsa sopan dan pemalu. Konon, kesopanannya melebihi orang Jawa, dan saking malunya nihonjin tak berdaya dimata orang Amerika. Lepas dari akibat PD II, hanya jepanglah yang diminta menanggung biaya oprasional ke 7 pangkalan militer Amerika, mulai dari Okinawa (Selatan) hingga hokaido (utara), sementara di negara lain Amerika tiap tahun berdebat tentang besarnya uang sewa. Wajar bila kawan saya Itokazu (kelahiran okinawa) sangat anti Amerika, katanya biaya operasional pangkalan tersebut lebih besar dari anggaran pemerintahan jepang sendiri pertahunnya.

untuk Agam saya masih punya waktu untuk memikirkannya...

hikmah dan perbuatan baik

Bila sesama saudara saling konfrontasi

Saya termasuk penentang keras perang amerika terhadap irak…namun ternyata dalam negeri sendiri kita banyak disajikan perselisihan sesama muslim yang mengarah pada tindak kerusuhan dan saling menyakiti layaknya sebuah peperangan. Sebentar lagi menjelang pemilu 2009 kita akan menyaksikan suatu pertempuran yang tak bisa lagi dihindari antar sesama muslim tanpa memandang lagi rasa persaudaraan, rasa keimanan semua hanya demi segelintir kekuasaan. Mesti tak jelas sejelas saat perang amerika dan Irak, saya masih konsisten dengan kebencian terhadap perang, kecaman perlu diarahkan kepada mereka yang menikmati keuntungan politik dari perselisihan. Demikian pula yang terjadi di Pakistan sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim, tetapi konflik kepentingan politik melahirkan saling bunuh antar pemimpinya. Inilah yang terjadi bila perbedaan sesama muslim selalu dimunculkan dan selalu dibesar-besarkan dan mempercayakan penyelesaian kepada pihak luar yang juga cinta perang. Kita lupa bahwa setiap manusia pasti berbeda, coretan ini moga bermanfaat untuk memperkecil pertentang sesama muslim..

Suatu hari imam Malik memasuki masjid Nabawi selepas waktu sholat asar (menjelang margrib). Dia mendekat ke mimbar masjid dan duduk. Rosul telah memerintahkan bahwa setiap orang yang memasuki masjid sebaiknya tidak duduk sebelum melaksanakan sholat sunah dua rakaat (tahiyatul masjid) sebagai penghormatan kepada rumah Allah. Sebaliknya, Imam Malik pun mengetahui bahwa Rosul melarang sholat sesudah sholat asar, sehingga dan ia pun harus mencontohkan hal yang sama kepada murid-muridnya, untuk tidak melakukan sholat tahiyatul masjid bila mereka memasuki masjid antara asar dan magrib.

Namun, sesaat beliau duduk seorang anak muda yang mungkin tak mengenal imam malik, menegor dan memerintahkan sang imam “bangun dan sholat dua rakaat “. Lalu tanpa bereaksi lama sang imam melakukan solat dua rakaat. Semua murid-murid imam Malik yang berkumpul di belakang heran. Apa yang terjadi ? apa imam malik telah berudah pendapat ?.

Setelah selesai melaksanakan sholat, seluruh murid-muridnya mempertanyakan perbuatannya. Imam malik berkata “ fatwa saya tetap tak berubah sebagaimana yang telah saya ajarkan kepada kalian, saya hanya takut bila saya tidak melaksanakan sholat dua rakaat seperti yang diperintahkan anak muda tersebut, niscaya allah memasukkan saya kedalam ayat (kemudian beliau membacakan sebuah ayat alqur’an surah al-mursalat (77):48) “ ..dan apabila diperintahkan kepada mereka “rukulah”, maka mereka tidak mau ruku (sholat) “. Imam Malik melakukan ini karena kesadaran bahwa dia tidak ingin berselisih dengan anak muda karena takut kepada Allah.

Imam Ahmad mempunyai pendapat bahwa makan daging unta membatalkan wudlu. Suatu sikap yang tidak diikuti oleh imam-imam yang lain, kecuali murid-muridnya. Suatu hari seorang muridnya bertanya “ apakah beliau sholat dibelakang seorang yang ternyata makan daging unta sesudah wudlu ?”. Imam Ahmad menjawab “ apakah kau fikir saya menyiakan kesempatan sholat bersama orang macam Imam Malik atau imam Sa’eed ibn al-musayyab” ?.

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang berbeda-beda. Beda bahasa, warna, budaya hingga beda fisik dan kepintaran serta sifat-sifat individual. Tentang hal ini telah difirmankan Allah dalam surah 30:22 “ dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda bagi orang yang berilmu”.

Manusia secara alami pasti berbeda, sehingga sesuatu yang pasti ini tidak perlu lagi diperdebatkan. Yang perlu diperdebatkan adalah “bagaimana seorang muslim tidak menjadikan perbedaan ini sebagai perseteruan sesama dan bagaimana mencari membentuk hubungan antara kita yang berbeda ini ?.

Problemnya saat ini, kita seperti bingung mencari bentuk hubungan dari perbedaan ini. Berbagai bentuk aturan diluar islam dicoba paksakan untuk menyatukan perbedaan sesama muslim, yang hasil akhirnya malah pererangan yang tak pernah usai antara muslim belum lagi antara sebagian muslim dan non muslim seperti di philiphina. Seharusya muslim bisa saling hidup berdampingan dengan sesama muslim dan non muslim. Padahal alqur’an telah memberi kerangka persaudaraan antara muslim dan hubungan dengan non-muslim seperti tertulis dalam AnNahl (16): 125 “ serulah kepada jalan Allah dengan hikmah dan bijaksana (pekerjaan yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik “. Dua kunci “ hikmah dan perbuatan baik” inilah yang luput dari perhatian sebagian besar muslim saat mendapati realitas adanya perbedaan.

Contoh hikmah, sangat mengesankan diberikan oleh cucu Rosullulah, Hasan dan Husen. Di masa anak-anak, satu hari mereka melihat orang yang lebih dewasa dari mereka melakukan wudlu yang menurut mereka salah. Kemudian kedua cucu rosul tersebut sepakat untuk membenarkan wudlu orang tersebut. Mereka bermaksud memberi pembelajaran kepada orang dewasa tanpa bermaksud menggurui dan mengganggu kesenioran. Mereka mendekati orang tersebut dan berkata “ paman, saya dan saudara saya ini berbeda pendapat tentang siapa yang paling baik wudlunya? Sudikah paman menjadi hakim untuk menentukan siapa yang terbaik diantara kami ?. Kemudian masing-masing cucu rosul tersebut melakukan yang hampir tak ada perbedaan dan sesuai seperti yang diajarkan rosul. Sesaat orang tersebut memperhatikan dan menyadari bahwa ia tak punya pengetahuan tentang wudlu bahkan ia merasa wudlunya masih salah, lalu ia berkata “ demi Allah saya sebenarnya tak tahu cara berwudlu yang benar sebelum ini dan anda berdua telah mengajari saya bagaimana seharusnya berwudlu “…

Sikap Kita Menghadapi Penyakit

Bagaimana kita bersikap bila terkena suatu Penyakit.

Selepas sholat zuhur, saya sempat mendengarkan kultum ternyata isinya sangat menarik untuk saya sharing. Yaitu bagaimana sikap kita bila sakit. Berangkat dari pengetahuan bahwa alquran adalah obat dari segala penyakit. Sakit bisa jadi adalah cobaan sebagaimana Allah menguji nabi Ayub dengan penyakitnya, atau bisa juga sebagai cara Allah menghukum kita sebagai penebus dari dosa yang kita lakukan, banyak hadist yang bicara tentang ini. Ibarat orang tua yang menghukum anaknya yang nakal agar kembali menjadi baik.

Selain sabar bagaimana sikap kita bila sakit?. Ini saran baik yang diberikan.
1. Ucapkanlah istigfar dan perbanyaklah beristigfar, karena boleh jadi kita telah berbuat dosa yang tidak kita sadari.
2. Lakukanlah sholat hajat dan doa2 kepada Allah, mohon petunjuk agar kita menyadari dosa yang kita perbuat dan bertobat
3. Segara perbanyak amal atau menyempurnakan zakat yang barangkali belum kita bayar. Sesungguhnya perbuatan baik menutupi perbuatan buruk.
4. Baru beriktiar, baik kedokter atau pengobatan alternatif selain ke dukun yang hukumnya haram. Pengobatan alternatif yang baik adalah obat racikan dari tumbuh-tumbuhan yang umumnya tidak mempunyai effek samping. Obat-obtan dari dokter sudah jadi rahasia umum juga bersifat racun.

semoga berguna...mari lestarikan lingkungan kita dengan menanam pohon atau tanaman obat-obatan..