Rabu, Oktober 07, 2009
Free download for topographic data of Padang and Jambi
Setelah tasikmalaya berikut giliran Padang dan Jambi, Menurut prediksi BMGK gempa susulan akan datang.
Apa yang bisa kita sumbangkan ke wilayah gempa?
Kirim tim survei.. wah gak relevan biasanya udah banyak volentur.. BAKOSURTANAL cukup 1 x saja kirim volenteer tim GIS waktu kejadian Tsunami di Aceh..
Sebar hasil penelitian ... belum nyape kesana programnya
sebar data geodinamika... he.he.. sepertinya bosen juga dengar teori2 pergerakan lempeng yang di celotehkan para pakar toh tidak banyak membantu publik
sebar data satelit ..juga bukan tupoksinya Bakosurtanal dan udah pasti di lakukan provider data satelit
lalu apa?
Sebaiknya kita melihat lembaga lain..
USGS lebih cepat dalam hal info lokasi dari BMKG sendiri..,
contoh lain lagi ..independent organisasi yang dipelopori oleh Jaxa ? Sentinel Asia
menginisiasi penyebaran informasi spasial berbasis internet, bahkan berminat menjadi tulang punggung penyebaran informasi, sekaligus satu simpul distribusi penyebaran data satelit yang relevan (ALOS dan QB) serta data vector spasial wilayah hazard di asia pasifik. Saya sendiri rutin menerima data dari mereka tapi belum saya pergunakan secara maksimal.
dan masih banyak contoh lain kalau mau dicatat..
Belajar dari pengalaman di Aceh, selain data satelit data dijital topografi dan berbagai tematik sangat membantu oprasi dilapangan. hampir semua aktifitas kebingungan menentukan data geospasial legal dan akurat. Siapa yang merasa berwenang ppunya data gepospasial khususnya rupabumi.. ya BAKOSURTANAL
Nah.. berangkat dari pengalaan tersebut, saya saran Bakosurtanal melepas data rupabumi skala besar (1:50.000 atau lebih besar) wilayah bencana secara free download dan teregister, minimal tercatat.
dan ternyata direspon positip oleh rekan2 Bakosurtanal lihat dari press rilis di bawah oleh Dr. Fahmi Amhar sekretaris tim penanggulangan bencana alam Bakosurtanal.
selain itu ada juga free download raw data di ftp://sisn.bakosurtanal.go.id, Login anonymous dan pasword: sumbarpadang
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
Menyusul gempa 7.6 SR yang meluluhlantakkan kota Padang dan sebagian wilayah Sumatera Barat dan Jambi, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) telah mengirim peta-peta kawasan bencana ke wilayah bencana. Peta-peta yang terdiri dari peta rupabumi 1:10.000 sebanyak 41 nomor lembar peta, peta dinding Sumatera Barat, Bengkulu dan Jambi, Atlas Pariwisata dan peta Citra sebanyak 16 nomor ini akan
digunakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam mengidentifikasi sebaran kerusakan untuk mempermudah tim penolong baik selama tanggap darurat maupun dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi nantinya. Peta-peta tersebut juga telah diupload pada website BAKOSURTANAL (www.bakosurtanal.go.id) untuk free-download, sehingga para pemberi bantuan dari seluruh dunia dapat menggunakan data spasial yang standar, yang lebih akurat daripada data-data sejenis yang telah ada di internet.
BAKOSURTANAL juga segera mengirim tim untuk membantu BNPB dalam menggunakan data spasial maupun Sistem Informasi Geografis untuk optimasi tanggap darurat. Tim ini juga akan meninjau ulang berbagai infrastruktur data spasial yang telah ada selama ini, yang tentu saja mengalami kerusakan berat akibat gempa. Tim juga akan mengukur ulang titik-titik kontrol geodetik yang kemungkinan telah bergeser beberapa puluh centimeter hingga beberapa meter akibat pergerekan lempeng bumi yang cukup signifikan
dalam waktu beberapa detik selama gempa. Biasanya pergerekan lempeng ini hanya 4-6 centimeter per tahun.
Berdasarkan pengalaman tanggap darurat kebencanaan sejak gempa-tsunami di Aceh pada Desember 2004, BAKOSURTANAL telah memetakan ulang kawasan Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan kawasan pantai Barat Sumatera selebar tiga kilometer dalam rangka membangun Tsunami Early Warning System
(TEWS). Namun rupanya, perhatian masyarakat selama ini terlalu tertuju pada tsunaminya, sedang antisipasi pada gempa berkekuatan besar, yang mestinya terwujud dalam bentuk penegakan aturan bangunan yang lebih ketat (Building Code) agak terabaikan. Semestinya, bangunan-bangunan di kawasan-kawasan yang telah teridentifikasi rawan bencana segera dievaluasi. Kalau bangunan itu terbukti belum memenuhi persyaratan dalam Building Code, maka bangunan itu segera direnovasi. Mungkin proses ini memang memakan biaya. Namun itu pasti lebih murah daripada ketika bangunan itu dirobohkan oleh gempa secara mendadak.
Perhatian pemerintah maupun masyarakat pada pemetaan kawasan bencana, baik selama masa pencegahan (mitigasi), masa tanggap darurat maupun masa rehabilitasi-rekonstruksi memang masih perlu ditingkatkan. Ini terbukti bahwa peta kebencanaan dalam Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana baru disebut dalam satu ayat tanpa penjelasan. Dan kewajiban itupun dibebankan kepada Pemerintah Daerah. Akibatnya, baru sebagian kecil daerah yang dapat berbuat sesuatu dalam memulai menyiapkan peta kawasan rawan bencana. Dari sisi landasan hukum, UU ini memang perlu segera diamandemen. BAKOSURTANAL beserta komunitas-komunitas geospasial, semisal RS-GIS-Forum, Ikatan Surveyor Indonesia dan Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia sedang berupaya keras agar masyarakat kita
makin sadar spasial, sehingga juga makin sadar bencana. Saat ini Pemerintah melalui BAKOSURTANAL juga sedang menggodok RUU Informasi Geospasial, yang diharapkan akan membuat data geospasial lebih
memasyarakat lagi.
Contact Person:
Dr.-Ing. Fahmi Amhar (0816-1403109)
Sekretaris Tim Geospasial Tanggap Darurat BAKOSURTANAL
Fax: 021-87906041, email: famhar@bakosurtanal.go.id, famhar@yahoo.com
Sumber: milis rsgisforum-net 5 Oktober 2009
Kamis, Juli 16, 2009
Sentinel Asia

JPTM step 2 metting
Saya berkesempatan menghadiri JPTM (Joint Project Team Metting ) for Sentinel Asia step 2 di Bali 14-17 Juli 2009. Acara dihadiri perwakilan sekitar 20 negara-negara asia fasifik dan 60 instiutsi termasuk organisasi internasional. Sentinel Asia (SA) adalah organisasi volunter atau badan inistitif yang dilahirkan oleh APRSAF (Asia-Fasific Regional Space Agency Forum atau forum kerjasama regional asia fasific untuk badan Antariksa). Di Indonesia representatifnya adalah Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).
SA dibentuk sebagai triger dan wahana antar negara anggota di asia fasifik dalam menyumbangkan dan mendedikasikan pemanfaatan data satelit yang dimilikinya (baik satelit sendiri ataui stasiun bumi) terkait bencana-bencana besar yang sering terjadi di negara asia fasifik. SA dibentuk pada tahun 2005 pada pertemuan tahunan APRSAF ke 12 di Kitakyushu (Fukuoka, Jepang). Tujuan utama Sentinel Asia adalah (1) untuk berbagi informasi terkait bencana alam lewat platform WEBGIS dan format digijal, (2) menyusun cara pemanfaatan data satelit untuk penanggulangan bencana di wilayah asia fasifik. SA mencoba mengembangkan sistem distribusi data spasial pemantauan bumi secara real time dan otomatis antar jaringan regional. Dua spesifikasi utama kegiatan SA yakni pemanfaatn data spasial (satelit lingkungan/cuaca dan satelit remote sensing) secara rutin dan real time, serta penerapan ICT mulai dari perolehan data, analisis dan penyebaran informasinya.
Tahap awal kegiatan sentinel fokus pada empat kegiatan yaitu : emergency observation, wildfire monitoring, flood monitoring dan capacity building. Sentinel Asia step 1 berlangsung pada tahun 2006-2007, sementara SA step 2 diprogram untuk tahun 2008-2012. Pada SA tahap 1 disepakati pembentukan 3 nodes yaitu :
(1) Data Provider Node (DPN) adlah node yang mengoperasikan statisun penerima data satelit, yang memiliki satelit, yang dapat menyediakan data pada jaringan. Anggota node ini yakni negara yang memiliki stasiun bumi satelit pemantauan bumi.
(2)Local Service Provider Node (User Node-UN) adalah yang menerima dan menyediakan data untuk pengguna
(3) Research and Training Node (RTN) adalah yang mengembangkan hasil dan melaksanakan pelatihan.
Data utama yang digunakan pada SA step 1 adalah Terra/Aqua MODIS, MTSAT, ALOS. Data ALOS untuk rapid response dapat diminta dan didistribusikan diwilayah asia pasifik.
SA step 2 dihasilkan dalam pertemuan ARRSAF 14 di Bangalore India desember 2007. Inti kegiatan SA 2 yakni menjaga kontinuitas operabilitas SA step 1 yang diperkuat dengan memanfaatkan satelit komunikasi eksperimental WINDS milik JAXA (Japan).
Kedepan semakin banyak suport data satelit disediaka oleh organisasi volunter semacam Sentinel (http://dmss.tksc.jaxa.jp/sentinel/). Sehingga masyarakat atau profesional bisa segera mendapatkan informasi terkait lokasi dan posisi kejadian bencana alam diwilayah Asia Pasific. Be smart OK..
Pantai Kuta Bali, 16 Juli 2009
Senin, Mei 18, 2009
Pondok Rajeg Selayang Pandang
Apabila anda bepergian kearah Depok dan Jakarta dari kota Cibinong atau sebaliknya, dan anda menginginkan jalur nyaman, tidak padat dengan sesekali beristirahat sambil makan dan minum kelapa muda disepanjang jalan. Bisa dipastikan maka jalan Pondok Rajeg lah yang anda pilih. Ini bisa dimaklumi, karena saat ini siapapun akan suka bepergian ke Depok lewat jalan tembus Pondok Rajeg-Depok. Ataupun sebaliknya bila ingin ke bogor dari Jakarta sambil menghindari kemacetan maka jalur Depok Pondok Rajeg hampir pasti dipilih. Bila kita lalui jalan ini, terasa rimbunan pohon bamboo seakan bersalawat, hamparan rumah dan kebun singkong sepanjang jalan diselingi spot-spot tempat makan dan tempat minum tradisional seolah memberi salam kedatangan kepada siapapun yang melewatinya.
Itulah salah satu daya tarik wilayah Pondok Rajeg. Namun, selayaknya wilayah perbatasan, wilayah Pondok Rajeg menyimpan cerita tersendiri. Siapapun pasti teringat, beberapa tahun silam bila memasuki kota Cibinong dari arah kota Depok maka yang tergambar adalah memasuki suatu daerah dengan jalan-jalan yang sepi dan gelap di malam hari. Suasana sunyi semakin terasa dengan banyaknya pohon bamboo sepanjang jalan yang seolah berdenyit merintih kesepian. Sebagai wilayah pinggiran, umumnya hanya kendaraan pribadi yang lalu lalang di wilayah tersebut. Bagi mereka yang kemalaman bisa dipastikan, harus berjalan dalam kegelapan sambil diliputi perasaan was-was. Boleh di bilang wilayah perbatasan Cibinong – Depok ini laksana wilayah yang tidak berpenghuni, hanya lokasi pemakaman umum, pemakaman taman makam pahlawan dan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Wajar bila saat itu wilayah ini lebih dikenal sebagai tempat “Jin buang anak” .
Tetapi itu keadaan 10 atau 15 tahun lalu. Pondok Rajeg yang saat ini kita kenal, sangat jauh berbeda. Tahun 2001 tercatat sebagai tahun perubahan. Terhitung sejak tahun itu wilayah Pondok Rajeg, yang awalnya berupa desa berubah menjadi kelurahan. Wilayah yang terbagi atas 11 RW ini seolah mulai menyadari perannya sebagai daerah penyangga strategis kota Cibinong. Mesti masih sebagai wilayah pinggiran, namun Pondok Rajeg yang ada saat ini adalah Pondok Rajeg yang mulai menata diri, sedang dan terus akan membangun.
Banyaknya aktifitas keislaman dan pembangunan sarana peribadatan berbasis swadaya masyarakat menjadi cerita lain dari perilaku sosial masyarakat Pondok Rajeg yang terkenal ramah dan saling menolong. Mesti tanpa bantuan pemerintah daerah atau pusat, beberapa masjid, mushola, Taman Pendidikan Alqurank (TPQ) dan majlis taklim berdiri secara mandiri di wilayah Pondok Rajeg. Kuatnya pengaruh dan budaya islam di wilayah Pondok Rajeg bisa dilihat dari rutinnya peringatan maulid, tablik akbar dengan pagelaran marawis di hampir setiap mushola dan masjid tiap tahunnya. Ciri keislaman ini menjadi salah satu daya tarik lain akan wilayah Pondok Rajeg.
Seiring dengan pertumbuhan masyarakat Pondok Rajeg yang makin pesat. Kecerdasan dan kesadaranm masyarakat akan masalah lingkungan pun meningkat, bahkan sejak tahun 2008 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang pengelolaannya dilakukan secara tidak benar dan cenderung merusak lingkungan telah ditutup oleh pemerintah daerah atas permintaan masyarakat Pondok Rajeg. Demikian pula simbol-simbol menyeramkan seperti lokasi pemakaman yang selama ini dijadikan sarkisme (sindiran) mereka yang tinggal di Pondok Rajeg mulai hilang dengan sendirinya. Lokasi menyeramkan tersebut saat ini bahkan menjadi salah satu tempat menarik yang terdapat di wilayah Pondok Rajeg. Ini bisa dilihat dari banyaknya orang yang berolah raga di hari minggu ataupun kegiatan masyarakat lainnya.
Demikian pula dengan dibangunnya rumah tahanan kelas II-A di Pondok Rajeg, adalah wajar apabila masyarakat berharap tidak begitu saja menambah predikat hitam atas wilayah Pondok Rajeg. Sebaliknya adanya bangunan yang merupakan asset pemerintah tersebut akan semakin menambah daya tarik wilayah Pondok Rajeg. Hal ini karena giat pembangunan tidak hanya fokus pada peningkatan sarana dan prasarana fisik seperti jalan dan perumahan, tetapi juga menyangkut pembangunan multi dimensi meliputi aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.
Peningkatan kesadaran dan peran aktif masyarakat yang ditunjang dengan dukungan kelurahan dan institusi pemerintah itulah yang menjadi kekuatan wilayah Pondok Rajeg untuk berubah. Itulah hal yang patut di syukuri. Pondok Rajeg dari beberapa sudut ternyata memberi nilai tambah. Keadaan alam dan posisi geografis wilayah pondok rejeg seakan memacu secara alami wilayah ini. Sebagaimana diketahui, wilayah Pondok Rajeg berbatasan langsung dengan kota Depok, yang dikenal sebagai salah satu kota maju yang berdekatan dengan ibukota Jakarta. Selain itu wilayah Pondok Rajeg juga tidak jauh dengan pusat pemerintahan daerah (Pemda) kabupaten Bogor yaitu Pemda Cibinong. Pesatnya pembangunan di kota depok dan pusat pemerintahan kabupaten Bogor, sewajarnya berdampak pula terhadap pembangunan wilayah Pondok Rajeg dewasa ini.
Selain keadaan alam dan posisi geografis, struktur dan komposisi penduduk wilayah Pondok Rajeg pun seperti tidak mau ketinggalan turut berperan dalam mempercepat roda pembangunan wilayah ini. Berdirinya beberapa perumahan di wilayah Pondok Rajeg, seperti perumahan LIPI, Widyatama Indah, perumahan Hankam dan beberapa perumahan lain dalam rencana- yang pada beberapa daerah kerap memunculkan konflik horizontal antara penduduk asli dan pendatang tidak terjadi di wilayah Pondok Rajeg. Sebaliknya warga Pondok Rajeg secara bersama-sama secara sadar menciptakan beragam interaksi dan mengambil manfaat dari hubungan sosial tersebut untuk peningkatan kesejahteraan secara bersama.
Seiring dengan hari jadi Bogor yang ke 527 Wilayah Pondok Rajegpun ikut berbenah. Masih banyak tugas dan perkerjaan yang harus dilakukan di Pondok Rajeg, seperti pemanfaatan lokasi eks TPA di Pondok Rajeg, penciptaan lapangan kerja bagi eks pemulung, peningkatan sarana pendidikan sekolah dasar dan menengah, pembinaan lembaga swadaya masyarakat dan sebagainya. Tentunya semua itu bukan tugas yang mudah bagi siapapun baik pemerintah daerah mulai dari perangkat kelurahan, camat dan bupati maupun pihak swasta. Namun, visi dan misi untuk menjadikan wilayah Pondok Rajeg sebagai wilayah unggulan yang makmur dan aman di Cibinong Kabupaten bogor pada umumnya harus terus dihidupkan. Adanya visi dan misi Pondok Rajeg kedepan inilah yang membuat semangat dan harapan bagi siapapun untuk betah tinggal di wilayah Pondok Rajeg.
Demikianlah sekilas pandang tentang Pondok Rajeg masa kini. Mimpi-mimpi perbaikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan wilayah Pondok Rajeg ke depan dari setiap masyarakat Pondok Rajeg adalah jawaban hari ini atas pertanyaan yang muncul dimasa depan bagaimana Pondok Rajeg nantinya….
Selasa, Mei 12, 2009
Laporan survei bentang Lahan di NAD
TANGGAL: 29 APRIL – 3 MEI 2009
TIM SURVEI: Dr. Ir. Mulyanto Darmawan, M.Sc. dan Khamdani
Hari pertama, Rabu tanggal 29 April 2009 kami berangkat dari Bogor sejak pukul 2.30 pagi dengan pesawat GA 140 pukul 5.30 menuju Banda Aceh. Pesawat mengalami kerusakan di Medan, sehingga kami harus menuggu pesawat berikutnya dari jakarta (delayed selama 3 jam). Tiba di bandara Sultan Iskandar Muda banda Aceh sekitar pukul 15.00 kami langsung ke kantor BAPPEDA Prov NAD dengan tujuan untuk menyampaikan surat ijin, sosialisasi Atlas Program-program Kemiskinan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk pembuatan Atlas Overview dan Atlas Bentang Lahan dan menyerahkan atlas kemiskinan. Kami diterima oleh kepala Bidang Penelitian bapak Drs. Syafri gani dan sekretaris kepala Bappeda Ir. Faizal Adriyansah. Hasil pertemuan dari Bappeda kami menerima buku Aceh dalam angka 2008, dan beberapa informasi terkait keberadaan data yang kami butuhkan.
Hari ke dua Kamis tanggal 30 April 2009, kami lanjutkan pertemuanke Bappeda mengambil beberapa data. Tim kami bagi dua dimana pak khamdani mengumpulkan peta2 dari pusat pemetaan Bappeda NAD sementara pak Darmawan mengambil data di bindang perencanaan program. Beberapa data kami dapatkan seperti kebijakan umum anggaran 2008-2009 dan ringkasan program dan anggaran daerah 2008-2009. Selanjutnya kami menuju kantor ESDM untuk mencari beberapa peta tematik terkait geologi, geomorfologi, gunung merapi dan peta gerakan tanah. Selanjutnya kami menuju kantor BPS kota banda Aceh dan diterima oleh kepala BPS. Beberapa data terkait program kemiskinan kami terima. Kami disarankan menuju datang ke kantor BPM untuk mendapatkan data lokasi dan alokasi program penanggulangan kemiskinan nasional. Demikian pula kami disarankan mendatangi Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh (DPKKA) untuk mendapatkan data ringkasan program dan anggaran pemerintah daerah tahun 2008-2009.
Hari ketiga jumat 1 Mei 2009, pagi hari kami bertemu kepala BPM dan menerima beberapa data tentangg program PNPM perkotaan dan desa dengan anggaran APBN dan daerah. Kami lanjutkan dengan survey lapangan dan pengambilan foto-foto dilapangan untuk wilayah kota Banda Aceh dan Aceh besar. Wilayah pantai dan bukit-bukit bentukan struktural kami datangi dan ambil gambarnya
Hari ke empat Sabtu 2 mei 2009, kami melanjutkan survey lapangan dan pengambilan foto lapangan dengan fokus pada wilayah bentukan karts (kapur) dan perbukitan jenis sungai.
Adapun data yang kami dapatkan sebagai sebagai berikut :
•Aceh dalam Angka 2008
•Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja tahun 2009 dan 2008
•Laporan Kinerja Prpinsi NAD
•Rumah tangga sasaran program kemiskinan di propinsi NAD
•Potensi dan peluang investasi Usaha pertambangan dan Energi Propinsi NAD
•Album peta tematik berbagai tema sejumlah 14 lembar
•Peta geologi dan fisik lingkungan propinsi NAD lterbagi atas 7 lembar
•Daftar lokasi dan alokasi dana APBN dan APBD program nasional pemberdayaan masyrakat mandiri rpopinsi Nad tahun 2008
•Daftar lokasi dan alokasi dana APBN dan APBD program nasional pemberdayaan masyrakat mandiri rpopinsi Nad tahun 2009
•Foto-foto lapangan
Kendala yang ada selama pelaksanaan
- Kesulitan kami memahami pertanyaan yang dimaksud program kemiskinan yang akan dibuatkan atlas apa PNPM, keluarga mandiri, dan BLT. Apa termasuk program oleh pemda lokal.
- Tidak semua data tersedia pada satu instansi semisal BAPPEDA. Akan tetapi Data tersedia pada beberapa instansi, sementara lokasi cukup berjauhan sehingga sulit di lakukan. Daftar lokasi dan alokasi dana APBN dan APBD program nasional pemberdayaan masyrakat mandiri rpopinsi Nad tahun 2008
- Bentang lahan amat susah didekati sehingga kami hanya memotret pada jarak tertentu. Akibatnya pada waktu plotting dipeta nantinya, diperlukan ketelitian yang tinggi
Lampiran
foto 1
Foto 2
Foto 3
Jumat, Februari 06, 2009
ATLAS NASIONAL
(http://www.bakosurtanal.go.id/?m=10&p=&static=176)
Setelah enam dasawarsa Indonesia merdeka, kini Indonesia memiliki Atlas Nasional. Atlas ini akan menambah daftar produk atlas nasional yang sudah dipublikasikan oleh negara-negara lain. Atlas Nasional Indonesia merupakan produk strategis karena menjadi informasi resmi tentang Indonesia bagi negara-negara lain yang bermaksud mengetahui Indonesia melalui media informasi geografis.
Atlas Nasional Indonesia adalah kumpulan peta tematik deskriptif, gambar, foto, dan citra satelit yang disusun secara sistematik sehingga membentuk informasi tentang fenomena, potensi dan sumberdaya yang ada di suatu wilayah. Atlas ini menampilkan informasi untuk wilayah Indonesia secara kesuluruhan maupun infomasi pulau dan kepulauan besar. Informasi yang ditampilkan dikemas dalam 3 volume atlas yakni :
* volume I: Fisik dan Lingkungan Alam
* volume II: Potensi dan Sumberdaya
* volume III: Sejarah, Wilayah, Penduduk, Budaya dan Bahasa.
Atlas Nasional Indonesia volume 1 yang diluncurkan saat ini menyajikan informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan alam yang ada di Indonesia secara umum dan secara khusus di pulau atau kepulauan besar. Tema-tema yang berkaitan dengan fisik dan lingkungan alam meliputi : iklim, geologi, geomorfologi, kelautan, gunung api, rawan bencana, penutup lahan, dan kawasan konservasi.
Tujuan peluncuran atlas ini untuk menginformasikan kepada institusi pemerintah, swasta, dunia pendidikan, dan masyarakat secara umum bahwa Indonesia memiliki atlas nasional yang dapat digunakan sebagai atlas referensi, media promosi tentang Indonesia dan media pembelajaran.
Produk Atlas Nasional Indonesia diluncurkan dalam bentuk buku cetakan dan web Atlas Nasional Indonesia yang disiapkan untuk diakses melalui internet. Atlas ini disusun sejak tahun 2007 dan dicetak pada tahun anggaran 2008. Beberapa atlas akan didistribusikan kepada institusi/departemen, kedutaan besar, dan institusi pendidikan. Sebagian lainnya dapat diperoleh publik melalui Pusat Jasa dan Informasi BAKOSURTANAL.
Atlas Nasional Indonesia dibuat merupakan produk bersama antara Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) dengan beberapa instansi seperti: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Badan Geologi Departemen ESDM, Dinas Hidro Oseanografi MABES TNI AL, Departemen Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universtas Indonesia dan National Geographic Indonesia.
Kegiatan pembuatan atlas ini akan berlanjut pada tahun 2009 dan tahun 2010. Tahun 2009 akan diselesaikan atlas volume II dengan judul: Potensi dan Sumberdaya. Atlas volume III dengan judul: Sejarah, Wilayah, Penduduk, Budaya dan Bahasa akan diselesaikan pada tahun 2010. Bersamaan dengan selesainya produk cetakan, web atlas nasional Indonesia juga akan dilengkapi dengan atlas volume II dan III.
Contact Person : Dra.Trini Hastuti, M.Sc
Kepala Bidang Atlas Sumberdaya dan Atlas Publik
BAKOSURTANAL. Telp : 0218764613
Email: trinihastuti@yahoo.com
Rabu, Desember 31, 2008
HAPPY NEW YEAR 2009
SEMOGA DI TAHUN 2009 KEHIDUPAN KITA MENJADI LEBIH BAIK...
BBM TURUN HARGA-HARGA TURUN DAN ONGKOS ANGKOT TURUN..
TUNJANGAN DAN GAJI NAIK...REZEKI NAMBAH.
BISA MEMPERBAIKI RUMAH...
BISA MAPAN DALAM KARIR DAN BEKERJA ...
MENANTI KEDATANGAN SI KECIL ...
TERHINDAR DARI NAFSU DAN GODAAN SYETAN UNTUK BERBUAT MAKSIAT.
BERTAMBAH KETAQWAAN DAN IBADAH KEPADA ALLAH SWT...
SEMAKIN TAWADLU DAN SABAR...
RAJIN MELAKSANAKAN IBADAH...
GEMAR BERAMAL DAN SHODAQOH....
SEDIKIT MUSUH DAN BANYAK TEMAN ...
MELAKUKAN HAL LUAR BIASA DENGAN HAL YANG BIASA ...AMIN
DEM DAN STUDI ALIGMENT JALAN RAYA
Selain itu untuk merencanakan jalan baru atau merelokasi fasiltas jalan yang ada dengan pendanaan yang efektif dan efisien, diperlukan informasi koridor terrain (Terrain corrider). Pemetaan terrain yang akurat sangat penting untuk perencanaan dan desain koridor jalan raya (highway), pendugaan dampak lingkungan dan pengelolaan asset infrastruktur.
Jalan highway di Provinsi NAD memiliki volume pekerjaan dengan luas 18.000 km persegi, berupa lebar alternatif koridor (buffer) dari jalan utama ke arah kiri dan kanan jalan, dan panjang jalan sekitar 450 km.
Peran data DEM dalam studi alignment dapat dilihat dari pentingnya informasi akan terrain dalam studi ini. Data DEM memberikan informasi informasi terrain dan informasi ketinggian objek pada permukaan bumi. Data DEM (Digital Elevation Model) sendiri adalah data yang berisikan ketinggian suatu daerah terhadap satu bidang referensi tertentu. DEM dapat berupa : DSM (Digital Surface Model) yaitu data ketinggian permukaan objek yang ada di muka bumi seperti pepohonan dan bangunan, atau DTM (Digital Terrain Model) yaitu data ketinggian permukaan bumi (bold earth).
Proses pembuatan DEM dapat dilakukan melalui metode
1. Pengukuran langsung di lapangan seperti menggunakan levelling/waterpas atau menggunakan GPS-heighting (DGPS, RTK).
2. Menggunakan citra/foto udara. Yaitu satu citra/foto hanya memberikan informasi 2D, untuk memperoleh informasi ketinggian selalu diperlukan 2 citra dari daerah yang sama yang diambil dari posisi yang sedikit berbeda. Oleh karena itu diperlukan foto udara/citra optis: stereoskopi atau bisa pula menggunakan citra radar: interferometry (IFSAR) dan radargrammetry
3. Laser scanning: airborne atau terrestrial LIDAR
MASALAH /TANTANGAN
Masalah utama dalam penyediaan data dijital DEM wilayah Banda Aceh – medan sbb.
1. Sumber data yang ada belum meliput seluruh area dengan akurasi dan standar data yang seragam. Sumber data yang tersedia antara lain: data IFSAR, Foto Udara, Citra Satelit Resolusi Tinggi yang hanya mencover sebagian wilayah pantrai timur dan Peta Rupa Bumi – BAKOSURTANAL. Dengan system overlapping data yang ada dan data dijital tersedia maka dimungkinkan menyediakan data peta meliputi wilayah Banda Aceh hingga Aceh Tamiang,
2. Data IFSAR terdiri dari DSM – Digital Surface Model (data DEM dari first surface sinyal radar Band C) dan ORI (Ortho Rectified Image). Sedangkan DEM untuk rencana jalan highway memerlukan riil ground atau DTM (Digital Terain Model). Untuk melengkapi data IFSAR masih diperlukan Foto Udara dengan pemetaan fotogrametri dengan skala besar. Kedua data IFSAR dan fotogrametri ini dapat dipergunakan sebagai sumber data topografi tiga dimensi yang memadai.
3. Data liputan lahan tidak tersedia, sementara data IFSAR yang ada tidak dapat digunakan untuk interpretasi lahan. Diperlukan data optis seperti SPOT 5 atau data satelit Landsat. Data yang bersumber pada citra satelit optis dapat memberikan informasi penutupan lahan tetapi tidak dapat dipergunakan untuk membuat DEM dengan akurasi yang memadai untuk perencanaan jalan highway.
METODOLOGI PEMBUATAN DEM
Permukaan bumi, merupakan fenomena yang kontinyu. Satu titik di permukaan bumi akan selalu berhubungan dengan titik pada permukaan bumi lainnya. Model elevasi dijital atau Digital Elevation Model (DEM) adalah representasi permukaan bumi dalam bentuk dijital. Arah dan gerakan air di permukaan bumi sangat erat kaitannya dengan bentuk permukaan bumi. Fitur hidrologi, seperti pola aliran serta daerah aliran sungai akan lebih mudah diekstraksi dari model elevasi dijital. Dengan mengetahui bentuk permukaan bumi, dapat membantu dalam perhitungan analisis beaya yang mencakup aspek transportasi atau aksesibilitas.
Model elevasi dijital adalah suatu data yang berisi data ketinggian suatu bentang lahan. Digital Elevation Model (DEM) adalah kumpulan titik-titik ketinggian suatu area. DEM dibangun dengan kumpulan titik-titik yang bergeoreferensi dalam suatu wilayah pemetaan. Elevasi (ketinggian) biasanya disimbolkan dengan Z, ditambahkan dalam suatu koordinat horizontal X, Y. Keunggulan penggunaan citra radar adalah tidak tergantung cuaca daapat tembus awan.
Surface/permukaan yang disajikan dalam format grid sering dikenal dengan ‘functional surface’. Functional surface adalah kontinyus . Setiap lokasi x,y, hanya mempunyai satu nilai z. Kontur atau isoline, sering digunakan untuk mendefinisikan karakteristik umum sepanjang garis. Kontur, secara teknis adalah menghubungkan nilai-nilai yang sama, dalam hal ini kontur menyajikan ketinggian yang sama. Triangular Irregular Network (TIN), adalah struktur data vector yang digunakan untuk menyimpan dan menyajikan suatu model permukaan. TIN membagi ruang geografis dengan menggunakan sejumlah data titik yang tersebar secara irregular, masing-masing mempunyai x,y dan z. Titik-titik dihubungkan oleh garis yang membentuk-bidang-bidang segitiga, dan akhirnya membentuk permukaan kontinyus yang menggambarkan lereng.
Tahapan pembuatan data IFSAR yang dilakukan BAKOSURTANAL adalah sebagai berikut :
1. Pemotretan Lokasi dengan pesawat untuk mendapatkan data Radar
2. Registrasi data kompleks Radar (A1 dan A2) yang berisi amplitudo dan fasa sinyal
3. Pembuatan interferogran, yaitu perbedaan fasa antara A1 dan A2. Nilai perbedaan fasa ini pada kisaran antara 0 dan 2 π (phi).
4. Phase unwrapping untuk mengetahui nilai perbedaan fasa yang sesungguhnya.
5. Konversi nilai perbedaan fasa ke nilai ketinggian
Untuk perencanaan jalan highway raya memerlukan data DEM yang menggambarkan dengan persyaratan :
- Terain adalah permukaan bumi riil (bukan DSM)
- Grid DEM yang seragam dan cukup rapat (Griding berkisar 3 meter)
- Sistem koordinat planimetris UTM
- Koordinat Tinggi dengan referensi geoid lokal – bukan tinggi referensi global
- Format DEM dapat dibaca software ArcGIS, AutoCAD dan software Remote Sensing atau viewer lainnya yang banyak tersedia secara free seperti autodem (www.autodem.com).
Proses pembuatan DEM dari berbagai sumber data tersebut di atas dengan melakukan:
1. Rectifikasi data IFSAR dengan data rupabumi (RBI) skala 1:10.000 dan 1:50.000 , sehingga menghasilkan data ORI sebagai kontrol dan foto udara serta data lain yang merupakan bagian dari fundamental dataset jaring kontrol vertical (Titik Tinggi Geodesi) dan horizontal wilayah NAD.
2. Pengolahan data DSM (dijital surface Model) dan DEM dilakukan menggunakan stereo plotting dan teknik photogrametri dari Data ORI.
3. Tahapan yang paling penting adalah atas pengumpulkan data breakline terain, spot height, dan pola hidrologi, image mosaicing dan control point.
4. Proses DEM dari data hasil stereoplotting – pembentukan TIN dan griding DEM. Tahap pekerjaan ini menggunakan software remote sensing atau software khusus.
5. Overlay antara data DEM hasil fotogrametri dan image IFSAR dan data vector alternatif jalur jalan highway yang ada sebagai studi awal alternatif jalan highway (preliminary study).
6. Overlay antara data ifsar dan data fotoudara untuk mendapatkan keakurasian DEM dilapangan
Peralatan yang digunakan dalam proses stereoplotting menggunakan alat dan software:
1. Komputer/Workstation dengan dual processor dilengkapi card 3D, dual monitor
2. Software – softcopy photogrametri misal: summit evolution, socet set dll.
3. Proses DEM dan Griding menggunakan alat dan software remote sensing dan GIS
4. Komputer Desktop dengan speed tinggi dan RAM besar dilengkapi
AKURASI DATA DEM
DATA DEM yang dihasilkan, adalah sistem STAR-3i dengan ketelitian vertikal DSM sebesar maksimum 3 m dan DEM maksimum 1 meter. Untuk pemetaan skala 1:25.000 diperlukan ketelitian ketinggian sekitar 4 m, sehingga DEM dari ini memenuhi kriteria ini untuk pemetaan hingga 1:5.000-hingga 1:10.000
Solusi Barang Bekas Berkualitas (BBQ) di Perum Widyatama Indah

...Tanpa disadari barang-barang lama dirumah kita semakin menumpuk... dan ini terjadi hampir setiap tahun...padahal ada orang lain yang barangkali masih memerlukannya... lalu bagaimana solusinya....
Keberadaan barang bekas selain perlu ruang khusus penyimpanan, acapkali timbul masalah lingkungan seperti bau tidka sedap, penuh sarang nyamuk, sarang tikus, bahkan mengganggu keindahan rumah kita.
Barang-barang tersebut sebenarnya masih mempunyai nilai ekonomis atau masih dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Dalam arti kata barang tersebut masih dapat digunakan ulang (ReUSe), atau di daur ulang (ReCycle) bahkan diubah ke bentuk lain (ReForm). Dengan 3R konsep itulah Barang-barang lama yang masih berkualitas kita atasi..
BAZAR BBQ yang tiap tahun di adakan di perumahan Widyatama Indah bisa dinilai cukup sukses. Acara tersebut yang selalu diadakan menjelang tahun baru pada minggu pertama dijadikan sebagai sarana penjualan, pertukaran (barter), penyaluran hingga amal barang-barang lama yang masih punya nilai ekonomis namun sudah tidak lagi berguna bagi pemiliknya disekitar perumahan Widayatama Indah tersebut. Selain itu Bazar tersebut juga mempererat silaturahmi antar warga perumahan dan penduduk sekitar, yang pada beberapa wilayah seringkali memunculkan masalah sosial yang cukup komplek.
VISIT YEAR 2009 dan ATLAS PARIWISATA

Visit Indonesia Year tahun 1991 menyerap sekitar 2,5 juta wisatawan manca negara dinilai sukses oleh pemerintah Indonesia. Demikian pula VIY 1992, 1993 dan seterusnya termasuk VIY 2003 yang diperkirakan akan terganggu akibat peritiwa "rekayasa "BOM BALI tahn 2002 ternyata masih menyerap kunjunguan jutaan wisatawan mancaneara ke Indonesia.
Keberhasilan VIY tersebut tentunya tidak lepas dari adanya peningkatan berbagai fasiltas, baik berupa perbaikan hotel berbintang maupun kebijakan bebas visa kepada wisatawan dari beberapa negara ataupun visa on arrival (visa di tempat kedatangan) kepada wisatawan mancanegara lainnya.
Namun demikian, keberhasilan mendatangkan wisatawan mancanegara tersebut diharapkan dapat terus terulang tiap tahunnya. Banyaknya kunjungan wisatawan ke negara kita ini diharapkan dapat meningkatkan pula taraf hidup masyarakat Indonesia secara langsung atapun tidak langsung serta kewibawaan bangsa secara umum. Selain perbaikan berbagai fasilitas infrastruktur fisik, ketersediaan data dan informasi berupa Atlas pariwisata (seperti peta pariwisata NAD di atas) sebenarnya juga merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Peta ataupun Atlas (kumpulan peta dengan satu atau beberapa tema)pariwisata memudahkan perjalanan dan memperlancar arus informasi dan komunikasi.
Hanya memang patut disayangkan penggunaan peta dan Atlas rupanya belum membudaya di Indonesia. Masyarakat lebih suka mengandalkan BERTANYA daripada melihat PETA untuk mencari informasi atau membantu perjalanan mereka. Menjelang tahun 2009 ini saatnya kita budayakan BUDAYA BERPETA sebagai ganti BUDAYA BERTANYA" dalam menunjang Visit Indonesian Year 2009.
Remote sensing dan Rawan Banjir
Indonesia sebagai Negara yang ter;etak sepanjang garis khatulistiwa, memiliki musim hujan dna musim kemarau yang tegas. Keberadaan musim tersebut setiap waktu dan tempat berbeda. Wilayah Indonesia Barat memiliki musim hujan atau bulan basah cukup banjyak, mencapai 10 bulan, bahkan kota Bogor terkenal sebagai kota hujan karena tidak terdapat bulan kering. Sementara wilayah Indonesia Timur memiliki bulan basah yang selatif sedikit dari bulan kering, bahkan pada wilayah Nusa Tengara bulan basahnya kurang dari 4 bulan. Banyaknya bulan basah dapat dijadikan indikasi banyaknya kejadian banjir pada daerah tersebut.
Penyebab banjir umumnya karena curah hujan yang tinggi. Banjir dapat pula disebabkan oleh pasang surut air laut dikenal sebagai banjir ROB atau bobolnya tanggul sungai atau bendungan.
Air hujan yang turun pada suatu daataran akan mengalir kedataran yang lebih rendah dengan menghanyutkan partikel-partikel tanah dan berbagai jenis polutan. Jika Volume air yang mengalir melebihi kapasitas daya tampung air pada dataran rendah, maka dapat dipastikan banjir. Kasus seperti ini dapat dijumpai di beberapa pelosok daerah di JABODETABEK.
Pasang surut air laut menimbulkan gelombang besar di sungai dan meluap pada daerah sekitarnya. Kasus ini banyak dijumpai pada daerah-daerah sekitar sungai besar di Sumatera, Kalimantan dna Papua dengan areal genangan bisa mencapai ratusan kilometer. Apabila debit air sungai terlalu besar akibat intensitas hujan tinggi dapat menyebabkan bobolnya bendungan sehingga menimbulkan banjir, seperti kasus banjir di kota Semarang, atau Bojonegoro.
Kasus-kasus banjir di wilayah Indonesia mempunyai karakteristik berbeda sperti: banjir di Sumatera Utara (Medan) terjadi akibat luapan sungai yang melebihi debitnya. Banjir di Padang dan Bengkulu sebagai akibat perpaduan antara gelombang laut dan sungai-sungai disekitarnya yang meluap. Banjir di Jambi dan kota-kota di Jawa Tengah akibat meluaonya sungai Batanghari dan Bengawan Solo akibat intensitas hujan yang tinggi. Banjir di Lampung disebabkan oleh berkurangnya daya resap tanah didaerah hulu akibat perusakan hutan.
Banjir yang menggenangi dataran rendah biasanya cepat menyusut apabila jenis tanahnya mempunyai aggregate mantap dan drainasi baik. Sementara banjir akibat meluapnya air sungai akibat pasang surut memerlukan waktu penurunan air lebih lama, karena biasanya tanah-tanah pada wilayah pasang surut berdrainase buruk.
Karakteristik banjir pada suatu daerah dapat difahami dari bentuk lahan (kondisi geografi), keadaan topografi, jenis tanah, jenis penggunaan lahan dan keadaan penutup lahan. Debit maksimum dapat pula ditambahkan sebagai faktor yang menentukan untuk pendugaan banjir pada suatu kawasan. Sebagai besar factor yang mempengaruhi debit maksimum dapat dipantau melalui citra satelit ataupun foto udara, seperti pola penggunaan lahan, kondisi hutan, bentuk lahan, jenis lereng, pola alur sungai, dan proses geomeorfologi. Sementara factor lainnya seperti sifat fisik tanah tanah dan curah hujan dapat dilakukan pengamatan secara langsung melalui survei multi tingkat (multi stage survey).
Remote sensing dapat diartikan sebagai cara memperoleh informasi dari objek atau gejala di atas muka bumi secara tidak langsung. Saat ini bahkan beberapa jenis citra penginderaan jauh dapat mengambil informasi beberapa meter di bawah muka bumi.
Pemanfaatan citra satelit untuk pemantauan banjir dilakukan melalui pendekatan geografi dan lingkungan yang bersifat makro dan synopsis, sehingga memberikan gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang areal banjir.
Kondisi geografi dan lingkungan yang dapat dipantau lewat citra satelit meliputi: bentuk lahan, keadaan topografi, luas daerah aliran sungai (DAS) termasuk luas areal banjir, vegetasi penutup lahan terutama hutan.
Bentukan lahan memberi gambaran tentang daerah-daerah sasaran banjir, seperti rawa belakang (back swamp), danau tapal kuda (Oxbow lake), dan dataran banjir (flooded plains) merupakan daerah rawan banjir akibat meluapnya air sungai. Sebaliknya dataran antiklinik, dataran perbukitan dan bentukan asal denudasional merupakan daerah bebas banjir tetapi keadaanya dapat menjadi sebab banjir pada dataran rendah di bawahnya, akibat rusaknya sistem tata air dan jenis tanah yang peka terhadap erosi.
Tipe tanah yang dominan peka terhadap erosi, biasanya berasal dari tanah-tanah yang baru berkembang. Topografi bergelombang serta lereng curam menyebabkan timbulnya banyak tanah longsor dilereng-lereng pegunungan dan genangan banjir pada dataran rendah.
Kondisi hutan yang rusak akibat illegal logging, perladangan berpindah, konsesi dan konversi hutan menyebabkab rusaknya tata air tanah dan turunnya produksivitas lahan sehingga menimbulkan kerawanan banjir pada musim hujan.
Faktor-faktor yang digambarkan di atas dapat dipantau dengan bantuan teknologi penginderaan jauh untuk menentukan variabilitas informasi banjir. Informasi yang didapat pada tahap awal berupa luasan areal yang kena banjir ataupun areal yang potensial banjir. Selanjutnya dapat pula diketahui kualitas air banjir (menyangkut tingkat kekeruhan, kandungan Lumpur, dan debit banjir) dan terakhir penyebab utama banjir pada suatu daerah, pendugaan areal yang paling parah terkena dampak banjir dan membutuhkan penyelamatan segera…
Seluruh Propinsi di Indonesia Rawan Banjir
PULAU SUMATERA
Wilayah rawan banjir banjir pulau Sumatera cukup merata terutama pada sepanjang pesisir pantai utara mulai dari Propinsi Daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Riau, Jambi hingga propinsi Sumatera Selatan dan Lampung.
Khusus wilayah propinsi NAD banjir seperti sebuah kejadian rutin, terbesar sekitar tahun 2000 dimana lebih dari separuh kota Banda Aceh terendam air. Beberapa desa di Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya adalah rawan banjir akibat luapan sungai Krueng Tenom apabila kawasan tersebut diguyur hujan lebat selama beberapa hari. Demikian pula beberapa desa di Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan adalah rawan banjir seperti desa Lhok Raya, akibat meluapnya air sungai Krueng singkil secara tiba-tiba.
Wilayah NAD secara umum dibagi menjadi 13 satuan wilayah pengelolaan DAS, dengan karakteristik spesifik yang berbeda ditinjau dari bentuk, topografi dan tutupan lahannya. Dilihat dari bentuk DAS nya saja secara sekilas kita dapat dengan mudah memahami bahwa DAS Krueng Aceh, DAS Teunom Woyla dan DAS Singkil adalah bentuk DAS yang sangat rawan bencana Banjir (lihat Gambar 1a). DAS tersebut memiliki cakupan yang luas pada bagian hulunya dan bermuara pada satu atau dua sungai utama dengan wilayah muara yang sempit. Pengamatan geofisik DAS Krueng Aceh menunjukkan betapa rawannya Kota Banda Aceh terhadap bahaya banjir. Kota Banda Aceh merupakan daerah outlet paling ujung yang menerima semua aliran air dari semua arah mulai dari hulu hingga hilir dalam DAS Krueng Aceh yang memiliki luas area 197.354,5 hektar dan Krueng Aceh sebagai outlet utamanya.
Propinsi Sumatera Utara, daerah-daerah pesisir utara mulai dari Pangkalanbfrandan, tanjungpura hingga Belawan merupakan daerah rawan banjir. Demikian pula daerah lubuk pakam, Sei rampah, dan sepanjang muara sungai Asahan seperti Indrapura dan kualatanjung, tanjungbalai, Rantauprapat hingga menjorok ke Labuhanbilik merupakan daerah berpotensi rawan banjir.
Daerah sepanjang dataran rendah sekitar Kota Pakanbaru hingga sepanjang aliran sungai rokan kiri dan rokan kanan dan ke timur wilayah aliran sungai Kampar adalah daerah rawan banjir, termasuk pulau Bengkalis dan sebagian pulau Rangsang di propinsi Riau.
Untuk Propinsi Jambi mulai dari Kota Rengat, Tembilahan, sekitar pulau Basu hingga Kuala tungka dan sekitarnya. Demikian pula kota Jambi dan daerah dataran rendah sepanjang DAS sungai Hari mengarah ke Simpang lima dan Kampung laut juga daerah yang rawan tergenang.
Daerah rawan banjir di propinsi Sumatera selatan cukup luas mencakup area seperti Pulau Rimau dan daerah sekitarnya, Kota Palembang, Sungai gerung, hingga ke tanjung Lumut, termasuk wilayah sekitar Prabumulih dan muara-muara sungai yang menjorok ke selat Bangka.
PULAU KALIMANTAN
Wilayah Kalimantan pada umumnya mulai mengalami banjir pada bulan Oktober, hingga Desember dan Januari hingga April. Daerah berpotensi banjir umumnya terjadi pada bentukan lahan berupa dataran bajir dan dataran alluvial dengan kondisi topografi yang datar dengan kemiringan lereng kurang dari 2%, dan drainase lambat. Daerah rawan banjir paling luas dijumai di propinsi Kalimantan Tengah meliputi beberapa kecamatan sepanjang Sungai Barito dan Kapuas meliputi kabupaten seperti Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Gunung Mas, Kapuas, Katingan, KotaWaringin Barat dan Timur, Lamandau, Murung Raya, Palangkaraya, Pulau Pisau, Seruyan, dan Sukamara. Luas total daerah berpotensi banjir sekitar 3,5 juta (ha) atau seperti wilayah propinsi.
Kalimantan Barat mempunyai daerah berpotensi banjir cukup besar setelah Kalimantan Tengah. Sebaran daerah rawan banjir terutama meliputi kecamatan-kecamatan sepanjang muara sungai Kapuas. Demkian pula beberapa kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Sambas seperti Teluk Keramat, Kota Singkawang, Menpawah hingga Kota Pontianak. Pulau Padang Tikar dan Pulau Maya juga merupakan daerah yang berpotensi rawan banjir.
Wilayah rawan banjir pada Kalimantan Selatan dan Kalimantan timur relatif sedikit. Namun beberapa kecamatan di Kalimantan Selatan tampak berpotensi banjir seperti Kecamatan Simpang empat dan Martapura di kabupaten Banjar. Demikian pula pada beberapa kecamatan di Kabupaten Barito Kuala seperti Tabukan dan Tabunganen juga mempunyai daerah berpotensi banjir. Beberapa kecamatan di beberapa kabupaten seperti Kabupaten Hulu Sungai Selatan, HUlu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tanah Laut termasuk kota Banjarmasin juga termasuk daerah rawan banjir. Untuk Kalimantan Timur sebaran daerah rawan banjir, meliputi Kabupaten Kutai, Kutai Barat dan Timur, Nunukan, Malinau, Tarakan, Kota Balikpapan dan Samarinda.
PULAU SULAWESI
Dua kabupaten di propinsi Gorontalo merupakan daerah rawan banjir yaitu Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Gorontalo, terutama terjadi akibat meluapnya sungai Bone, Bolanga da Limboto.
Wilayah propinsi Sulawesi Utara daerah rawan banjir terdapat di daerah sekitar Minahasa dan sepanjang aliran sungai Bolaang Mongondow. Sebaran banjir terbanyak pada wilayah di propinsi Sulawesi Selatan meliputi kabupaten Baru, Bone, Gowa, Luwu, Mamuju, Maros, dan Pangkajene termasuk kota Makasar. Demikian pula dearah sepanjang teluk Bone meliputi Watampone, Palopo dan Masamba.
Daerah Banjir pada propinsi Sulawesi tenggara umumnya tersebar pada wilayah sekitar rawa Aopa Watumohae dan sepanjang danau Towuti.
Wilayah rawan banjir di Propinsi Sulawesi tengah meliputi kabupaten Banggai dan Banggai kepulauan. Sepanjang danau Poso, dan daerah sepanjang muara sungai Pasang kayu mendekati Tanjung Kaluku dan sepanjang teluk Tomori terutama daerah Dongi hingga lingkobu.
BALI, KEPULAUAN NUSA TENGGARA DAN SEKITARNYA
Ditinjau dari karakteristik sistem lahan yang ada, wilayah rawan banjir pada kepulauan Bali, Nusa Tenggara dan sekitarnya adalah sedikit. Sebaran daerah rawan banjir hanya meliputi kurang dari 10 % wilayah yanag ada. Seperti di pulau Lombok hanya tersebar sekitar kota Mataram, pulau Sumbawa hanya meliputi sebagain kecil daerah Taliwang, dan spot-spot kecil tersebar antara daerah Labu Sumbawa sampai Plampang, Dumpo dan Raba.
Untuk Propinsi Nusa Tenggara Timur juga demikian, wilayah rawan banjir tersebar secara spot-spot kecil dengan penyebaran secara umumnya di pulau Timor, meliputi daerah Kupang dan Atambua dan Besikama sekitar Tanjung Wetah
PULAU JAWA
Secara umum pantai utara pulau Jawa menunjukkan wilayah yang secara alami mempunyai karakteristik sistem lahan yang merupakan wilayah rawan banjir. Banjir terjadi sejak awal-awal musim hujan, sekitar mingu ke tiga bulan Oktober. Demikan pula pada sebagaian wilayah selatan pulaua Jawa wilayah sekitar Segara anakan dan Cilacap, Kebumen hingga Purwodadi.
Wilayah pantai Utara Jawa mulai propinsi Jawa Barat me;iputi daerah Cilegon, Tangerang, dan terbesar berada pada kawasan bekasi dan karawang merupakan wilayah berpotensi rawan banjir termasuk daerah bandara Internasional Sukarno Hatta, Jakarta. Demikian ula sebagian wilayah di Ujung kulon, sekitar tanjung Lesung seperti pagelaran dan citeureup, sebagian Kota Bandung dan Cimahi adalah daerah yang secara alami rawan banjir.
Wilayah banjir di propinsi Jawa tengah dan jawa Timur umumnya tersebar pada pantai Utara yang sebagian besar masuk dalam wilayah DAS Bengawan Solo. Wilayah pantai Utara sepanjang pantai Utara di Propinsi Jawa Barat diantaranya adalah Cirebon, Brebes, Tegal hingga Pekalongan. Sementara wilayah pnatai utara Jawa Tengah meliputi pula Kota Semarang, Demak, Pati Kudus hingga Rembang. Daerah lain yang masih terpengaruh oleh aliran DAS Bengawan Solo juga merupakan daerah rawan banjir, seperti Sragen, Ngawi, Cepu, Bojonegoro sampai ke Lamongan. Demikian pula Kota Surabaya dan kota-kota sekitarnya seperti Sidoarjo, Monjokerto, dan Pasuruan. Untuk pulau Madura wilayah yang berpotensi banjir meliputi kota Bangkalan, Karangtengah, Pamekasan dan Sumenep.
Khusus DKI Jakarta, lebih dari separuh wilayah Jakarta adalah berpotensi banjir khususnya wilayah Jakarta Utara. Beberapa sungai dari wilayah Bogor bermuara ke Jakarta seperti sungai Cisadane dan Ciliwung. Untuk mengetahui potensi rawan banjir dalam skala yang lebih besar untuk wilayah Jakarta dan kota-kota besar lainnya pendekatan geomorfologi sistem lahan tidaklah mencukupi. Diperlukan informasi lain seperti rata-rata curah hujan dasarian, tata guna lahan sekala besar serta peta topografi.
KEPULAUAN MALUKU DAN SEKITARNYA
Wilayah rawan banjir di kepulauan Maluku dan sekitarnya menyebar mulai dari Pulau Morotai, Pulau Halmahera, P Obi dan pulau Sula di propinsi Maluku Utara hingga pulau Yamdena selatan dan kepulauan Aru Propinsi Maluku. Di pulau Seram sendiri, wilayah potensi rawan banjir meliputi daerah sepanjang pantai uatara mulai dari Wahai, Pasahari, KobiHati, hingga Kutar. Demikian pula wilayah sepanjang teluk Elpaputih terutama daerah Masohi dan Makariki.
KEPULAUAN PAPUA
Wilayah potensi banjir di wilayah Papua menyebar merata di sepanjang pantai Utara dan selatan pulau papua. Wilayah rawan banjir di sekitar kepala tanduk pulau Papua dapat ditemui mulai dari pulau Salawati, kota Sorong, Teminabuan sampai Bintuni yang merupakan bagian dari daerah aliran sungai Kamundan, Kais dan Timbuni.
Diwlayah punggung papua mulai dari kota Nabire, Asori, Pamdai, Teba sapai kota Sarmi secara geomorfologis juga merupakan daerah yang rawan banjir. Wialayh tersebut merupakan bagian dari DAS Membramo. Demikian pula untuk wilayah lembah Wamena yang masih terpengaruh oleh wilayah DAS Membramo, khususnya sepanjang sungai Idenburg dan sungai Tariku.
Di Selatan sepanjang pantai yang merupakan wilayah berawa mulai dari kota Timika, Agats, Birufu dan daerah sekitar wilayah DAS Sungai Baliem merupakan daerah yang secara alami berpotensi banjir. Demikian pula sepanjang sungai Digul mulai dari Abemare, Mapi, dan Nuweh termasuk sebagian wilayah di pulau Yos Sudarso merupakan daerah rawan banjir.
Landsystem dan Rawan Banjir di Indonesia
Deskripsi ini menggunakan peta rawan banjir hasil turunan dari peta landsystem, yang dipublikasi oleh Bidang Atlas Sumberdaya Alam dan Atlas Publik, Pusat ATLAS BAKOSURTANAL...
Banjir terjadi karena luapan air yang berlebihan di suatu tempat. Peluapan air bisa akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai,termasuk banjir kiriman dari wilayah atasan (hulu) atau biasa disebut banjir bandang. Apabila daya serap tanah terhadap air rendah maka limpasan air permukaan (run off) menjadi besar dan dapat melebihi daya tampung sungai yang ada.
Selain faktor air hujan dalam jumlah besar, kondisi geofisik daerah aliran sungai (DAS) juga menentukan terjadinya banjir. Faktor air hujan meski dapat dipetakan dan diprediksi namun sulit dikendalikan. Sementara, kondisi geofisik DAS relatif bisa dikendalikan dan dimodelkan dalam bentuk sistem informasi geospasial wilayah rawan banjir. Melalui pemahaman bentuk topografi dan luas DAS, jenis tutupan lahan, tipe tanah dan kapasitas sungai/kanal dalam menampung air. Diharapkan dapat membantu menanggulangi bahaya banjir ini.
Pada saat ini, berbagai model pemetaan banjir dikembangkan oleh komunitas survei dan pemetaan. Prinsipnya adalah semakin detil informasi yang disajikan maka semakin banyak melibatkan data dan analisa. Yang disajikan pada atlas banjir ini adalah pemetaan potensi banjir dengan pendekatan karakteristik sistem lahan pada setiap wilayah. Sistem lahan adalah suatu bentuk lahan yang memiliki pola pengulangan yang relatif seragam dalam sifat topografi, tanah, vegetasi dan iklim.
Sistem lahan yang rawan genangan banjir mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.merupakan bentukan lahan hasil proses fluvial, yaitu proses transportasi dan sedimentasi bahan alluvium oleh aliran sungai
2.mempunyai topografi datar
3.jenis tanah termasuk inceptisol atau entisol dengan drainase terhambat dan bertekstur halus
4.pola drainase berbentuk berkelok-kelok (meandering), pararel, rectangular, dendritic, trellised, atau deranged
Sebagai contoh wilayah yang mempunyai lereng datar, tanah dari batu yang kedap air dengan pola drainase yang kompleks dan berkelok-kelok seperti dendritik dan deranged merupakan daerah dengan potensi banjir besar. Pola aliran sungai dapat dilihat pada gambar di bawah.
Banjir dan Masalah Air Tawar
Baru saja Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) memperingati 4 tahun terjadinya bencana alam Tsunami. Sejanak merefleksi ternyata, Bangsa Indonesia dalam lima tahun belakangan ini tampaknya tidak lepas dari adanya bencana alam. Pertama di penghujung tahun 2004, sekitar pukul 8.40, tanggal 26 Desember 2004 wilayah paling barat Indonesia, propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terjadi gempa bumi berkekuatan sekitar 8.7 skala richter disusul dengan datang gelombang pasang tsunami yang menimbulkan korban jiwa ratusan ribu orang serta ratusan ribu lainnya mengungsi termasuk berbagai kerusakan fisik wilayah NAD tersebut. Memasuki tahun 2005, gempa sejenis dan tsunami masih kerap terjadi di sepanjang kepulauan Sumatera dan kepulauan Nias yang juga menimbulkan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Belum lagi lepas dari kepedihan akibat bencana di bumi serambi mekah dan kepulauan Nias tersebut, kembali pertengahan 2006 bumi Jogjakarta dilanda bencana serupa gempa bumi yang juga menimbulkan korban jiwa dan berbagai kerugian materi.
Selain gempa bumi dan tsunami yang belakangan terjadi, bencana alam banjir merupakan bahaya laten bagi beberapa wilayah Indonesia termasuk termasuk ibukota Jakarta. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB dahulunya BAKORNAS - PB) dalam kurun waktu 1998 sampai 2004 jumlah kejadian banjir di wilayah Indonesia tercatat 402 kejadian banjir dengan jumlah korban meninggal dunia yang cukup banyak yaitu sebanyak 1.144 orang. Sementara menurut data BPS tahun 1990, sejak tahun 1987 hingga 1989 jumlah korban akibat banjir sekitar 1.827.681 orang. Jumlah ini jauh lebih besar daripada bencana alam lainnya seperti letsan gunung berapi, gelombang pasang dan kecelakaan perahu dan gempa bumi.
Banjir yang belum lama ini melanda Pati, Grobogan, Semarang Kudus, Pekalongan, Tuban dan wilayah sepanjang pantai utara (Pantura) mengakibatkan sedikitnya 26 orang tewas serta kerugian materi yang tidak ternilai. Peristiwa banjir tersebut diduga akibat hujan yang terus menerus turun, sementara sungai dan tanggul yang ada tidak mampu menahan limpahan air hujan tersebut sehingga meluap menggenangi daerah sekitarnya.
Ketidak mampuan sungai dan tanggul untuk menampung volume air hujan, secara tidak langsung disebabkan oleh rusaknya daya dukung sumberdaya alam daerah hulu, terutama rusaknya kondisi hutan dan vegetasi lainnya serta penggunaan lahan yang kurang memperhatiakn prosentase daya serap tanah terhadap air. Sehingga terjadi limpasan air yang lebih besar dari capasitas daya tampung air oleh sunggai dan tanggul yang ada. Selain faktor daya dukung sumberdaya alam, beberapa daerah memang mempunyai topografi yang rawan banjir, seperti kasus banjir yang terjadi diwilayah Kalimantan Barat
Namun ironisnya, karena perbedaan musim yang tegas maka fenomena banjir di musim hujan selalu dibarengi dengan adanya bencana kekeringan di musim kemarau. Bencana kekeringan bukan hanya terjadi di wilayah-wilayah Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara dan kepulauan disekitarnya teta[i juga terjadi di bagian tengah dan Barat Indonesia. Padahal apabila kita mau, maka kelebihan air pada musim hujan dapat dimanfaatkan untuk disimpan menghadapi musim kemarau. Pembuatan sumur resapan ataupun danau buatan adalah salah satu upaya menahan kelebihan air musim hujan untuk musim kemarau...
Rabu, November 12, 2008
Problem Sampah di komples ku : Widayatama Indah Pondok Rajeg
entah sengaja atau tidak beliau curhat...intinya ingin minta kenaikan tarif sampah..
Dia minta kenaikan sampai Rp. 1.100.000 (satu juta seratus ribu) atau naik dua ratus ribu dari biasanya...
Saya tanya kenapa naik, bukannya BBM turun..
harusnya kan kita dapat penurunan harga...
Sambil senyum kecut dia menjawab. Dia kata penurunan BBM gak terlalu pengaruh. Dia menjelaskan kalau dana yang dia terima selama ini, dibagi tiga, keneknya Rp.300.000 (untuk 2 orang), bensin Rp. 300.000, dan sisanya gaji dia termasuk sewa lahan kebun pisang dekat rel kereta.Dia akan berhenti jadi tukang sampah di PWI apabila tidak dikabulkan pengurus RW, tambahnya.... Waduh bisa dibayakna repotnya jadi RW...
Pada akhirnya sampah akan jadi problem juga di lingkungan kita...bukan hanya jaringan internet yang saat ini mulai mewabah di perumahan-perumahan
saya gak tahu persih jumlah sampai perbulannya dari tiap kompleks perumahan. namun yang pasti yang dihasilkan dari komplekas PWI..perkiraan saya lebih dari 1.5 ton seminggu atau kl. 10 ton sebulan (estimasi 1 kali angkat pick up sampah penuh 850 kg, seminggu 2X diangkut, tiap angkut 2x riet)..Bisa terbayang berapa jumlah sampah wilayah Cibinong perbulannya mungkin lebih dari 50 ton.
Namun, berapapun uang yang kita bayar untuk membuang sampah lewat bang Arief-bang arief akan selalu kurang. Karena mereka selalu membuang tanah dipekarangannya atau sewa dari penduduk sekitar seperti bang arief. Dimanapun harga sewa tanah yang di pakai untuk terminal akhir pasti naik terus...sebaliknya juga tidak mudah nagih uang sampah dari warga apalagi menaikkan iuran..
di RT saya aja ada warga yang lebih galak dari pengurusnya saat ditagih iuran sampah..padahal saat sampahnya tidak ditarik protes keras...pengurus dianggap tidak becus.weleh-weleh..
Sebenarnya siapa tanggung jawab penanggulangan sampah ? Jawabnya pasti PEMDA..
cuma ada gak warga kita yang pernah lapor ke pemda masalah sampah di PWI? wallahu alam..namun sepertinya tidak..karena kita terlalu mengabaikan masalah ini
Apalagi PEMDA Cibinong juga punya problem serupa..mencari lokasi TPA susah..
TPA yang sudah ada, yaitu TPA pondok rajeg dekat kompleks HANKAM, status nya sudah tidak aktif, karena didemo warga bahkan statusnya akan ditutup...bayangkan yang demo puluhan hingga ratusan tentara..pasti tutuplah..
Sebagian warga di kompleksky ambil jalan pintas, buang sampah ke sungai... tapi begitu hujan terjadi banjir. Seperti kejadian kemarin minggu 2 November 2008. Hari itusangat kebetulan hujan besar dan sebagian wilayah pondok rajeg terkena banjir. Bayangkan rumah bang Mawi (persin belakang saya) yang puluhan tahun tidak pernah banjir kemarin terendam hingga se lutut, bahkan warga 3 RT di daerah atas marah besar ramai2 mendatanngi ketua RT1 (RT wilayah ku) dan memaksa pembongkaran beberapa bangunan yang dianggap penyebab banjir..bahkan terakhir mereka mau nuntut ganti rugi..tercatat pemilik tambak rugi 10 juta, pedagang gas puluhan juta dsb... namun sepertinya batal, karena kita tak tahu siapa yang harus mereka tuntut dan ini banjir. Dampaknya bukan wilayah mereka saja tapi daerah lain dibawah mreka juga banjir dan ini memang bencana..apalagi setelah survei lapangan kita memang menemukan kompleksnya masalah seperti adanya sampah disamping bangunan yang seenaknya diabngun diatas kali..
Kalau PEMDA saja sudah buta dan tuli tentang problem sampah, apa lantas kita diam saja..PEMDA mah gak kebanjiran atau ke bau an...
Lalu gimana solusinya...tambah ongkos ke pak Arief... menurut saya ini gak bijak..ibarat kita melempar batu sembunyi tangan... saya yakin pak Arief gak tahu kalau tidak semua sampah bisa di bakar. Pastik mesti telah dibakar masih perlu waktu 300 tahun untuk hancur...saya juga yakin pak arief gak tahu kalau dalam sebagian plastik ada dioxin yang bisa mematikan bila terhirup. Ataupun olie dan minyak bisa turun ke sumber air dan bila terminum oleh manusia yang tinggal di atasnya bisa menyebabkan kanker atau gangguan kecerdasan dalam waktu 25 tahun kedepan.
Apa lalu masalah sampah tak tertangani..tidak juga...Mimpi saya sih begini..Mungkin kita perlu mulai memilah-milah sampah, msl organik, non organik dan cairan. Non organik terpisah lagi plastik, kaca, botol, besi, batu bateri dan bahan2 kimia berbahaya. Cairan misal minyak goreng, Oli dan Cat. Organik bisa kita bakar secara periodik dan timbun dibeberapa tempat untuk pupuk. Sampah non organik saat ini boleh dikata tidak ada barang yang tidak bisa dijual plastik laku, kaca2 laku apalagi besi, botol, embel pasti laku. Hanya batu bateri, cat dan oli yang tidak tahu. Nah tugas pak Arief mungkin kita peringan hanya membuang sampah yang tidak bisa lagi kita ryclye tetapi ke TPA yang legal. Pak Arief juga tidak harus mutar dari rumah ke rumah ambil sampah yang menghabiskan bensin, tetapi kita arahkan kebeberapa tempat pembuangan sampah. 2 atau 3 lokasi di PWI. Warga juga perlu sedikit berolah raga dalam membuang sampah..sedikit berjalan lah, jangan lagi tiap rumah ada tempah sampahnya..sudah umum status sosial terkadang sangat mudah dilihat dari bak sampahnya. ada yang mampu bikin tempat sampah dari semen, tertutup dan bagus, namun ada yang hanya dari kaleng yang sudah butu dan tidak tertutup lagi...Intinya optimalkan konsep Recycle-Reuseu dan Reform.
Selasa, November 11, 2008
Atlas Dijital
Pusat Atlas terdapat dua kegiatan yang mesti saya support yaitu: Global Mapping dan Spasial Dynamic.
Dalam program Global mapping, Bakosurtanal berkomitmen untuk menyediakan data tenatik pada skala 1 juta meliputi landcover, hidrologi, jalan, dan toponimi, dan juga penduduk. Kerjasamanya dengan GSI (geographical Survey Institute), Japan. Sementara dalam spasial dynamic adalah kegiatan yang dikontrakkan.Kendala utama kegiatan global mapping adalah kesulitan memperoleh data,terutama landcover. Karena pusat atlas tidak memproduksi sendiri, perolehan data lnscover dari pusatlain seringklai mengalami hambatan.
Spasial Dynamic adalah menbahas teknologi terkini pembuatan atlas. Terdapat pergeesan antara atlas kartografis dan atlas dynamic. Kendala utama adalah pengintegrasian antara dynamic model dan spasial dynamic yang tidak mudah. Secara teori keudanya mudah ditemukan, namun bagaimana bentuk dan implementasinya jelas tidak mudah..
Climate change is What I can not Avoid
Berbagai topik kami bahas selama, mulai dari aplikasi GIS dan remote sensing untuk pemetaan hutan, ground truth, metode alometrik, illegal loging dan defragmentasi hutan. Semua topik itu tentunya sangat menarik.
Kali ini bukan topik tersebut yang akan saya tulis di sini. Tetapi keterlibatan saya dalam program dan diskusi disana itu cukup menarik. Barangkali dari semua peneliti atau presenter makalah dalam pertemuan tersebut, hanya saya yang bukan dosen atau peneliti di organisasi non pemerintah (NGO). Mesti berlatar belakang pendidikan pada “Global forest environment” dari Tokyo University, namun separuh masa kerja saya lebih banyak untuk melakukan proyek pemetaan ataupun pengelolaan data geospasial alias bukan penelitian. Kondisi itu pula yang menjadi kendala sekaligus tantangan buat saya untuk beradaptasi dengan komunitas yang sudah terlanjur terbentuk. Bayangkan, sejak tahun 2006-2008 bersama professor Kanehiro Kitayama (Kyoto University) dan Dr. John Tay (UMS-Malaysia), kami sama-sama mendapat grant untuk penelitian JSP dengan tema “Land Conversions and Ecosystem Consequences under Climate Change in the Tropical Rain Forests of Borneo: Developing Societal Adaptability with Integrated Ecosystem Management”. Untuk Tahun 2009-2010 bersama dengan Dr. Phua Mui How dan Prof. Tsuyuki Satoshi (Tokyo University) kami sama-sama mengajukan proposal ke Asia Pasific Network (APN) program dengan tema “Integrated prediction of Dipterocarp species distribution in Borneo for supporting sustainable use and conservation policy adaptation”.
Barangkali di BAKOSURTANAL, cukup banyak peneliti yang tertarik untuk bekerja terkait climate change, hanya yang mendapat kesempatan melakukan kegiatan secara langsung sangat sedikit bakan boleh dibilang belum ada. Melihat kondisi itu, kegiatan ini merupakan tantangan buat saya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Paling tidak mencari suatu hubungan keterkaitan antara data spasial dan climate change.
Seminggu menjelang keberangkatan ke Malaysia ini, kebetulan saya juga diminta menemani kepala BAKOSURTANAL, bapak Matindas, untuk berdiskusi dengan expatriate dari GTZ terkait isu climate change. Saat itu Dr. Nana (selaku tim leader GTZ di Indonesia) sedang mencari masukan kegiatan BAKOSURTANAL terkait climate Change. Jadi sepertinya pas banget..Hanya di akui dana penelitian dari kantor BAKOSURTANAL boleh dikata tidak ada, karena semua sudha di alikan ke bidang Geomatika…. sekian
Rabu, Agustus 20, 2008
in Memorium H. Andi Kurniawan
Informasi yang saya terima dari ibunya sedikit banyak membantu mengetahui penyebab kematiannya, yaitu "stroke" padahal tidak ada tanda-tanda dia mengidap darah tinggi. Beberapa hari sebelumnya Andi memang mengeluh ke ibunya sakit perut, dia curiga kena Mag, bahkan sempat konsultasi jarak jauh ke dokter tentang penyakitnya. Kamis 7 agustus Andi masih sempat komunikasi ke ibunya, bahkan ibunya telah mengirimkan resep dari dokter untuk ditebus di apotik di Jepang. Jumat 8 agustus pagi ibunya telpon namun tidak ada jawaban, demikian pula sore harinya pun tidak ada respon. Ibunya minta tolong kawan Indonesianya di Jepang untuk menengok keadaan andi. Jumat sore kawannya melihat mobil ada di garasi dan rumahpun lampu menyala, namun tidak ada orang. Selanjutnya dia mengajak kawan jepangnya untuk kembali ke rumah tersebut bersama polisi setempat. Namun polisi masih tidak berani masuk, karena khawatir melanggar peraturan. Hari minggu mereka kembali bersama polisi dan mendobrak pintu, saat itu Andi ditemukan sudah tidak bernyawa di depan pintu kamar mandi masih memegang handuk. Beberapa saksi mata masih melihat Andi mengikuti shalat jumat di masjid Tsukuba.
Yang saya tidak lupakan dengan rekan Andi adalah, kita sama-sama satu tim dikepengurusan TSUMRA (Tsukuba Muslim Residen), saya sebagai perwakilan indonesia yang sebagian besar pelajar dan Andi sebagai salah satu pengurus TSUMRA. Hampir setiap akhir ramadhan Andi selalu mengajak saya dan rekan lain Indonesia untuk i'tikaf di masjid. Biasanya dia bawa slepping bag dan kita mulai kumpul di masjid setelah pukul 23.00. Demikian pula selepas studi di jepang, saya sekeluarga diantar ole Andi ke bandara menggunakan mobilnya.
Kamatiannya terasa mendadak, tanpa terdeteksi sebeleumnya. Namun saya masih ingat senyum ramahnya dan kedinamisannya.. saya hanya bisa mengucap innalillahi wa inna ilahi rajiun, selamat jalan sahabatkun semoga Allah SWT mengampuni dosamu, menerima amal ibadahmu dan melipat gandakan kebaikan yang pernah engkau lakukan di dunia dan menghadiahi al Jannah. Amien. Insyaallah kita akan berkumpul kembali disana untuk bersama bermain dan beri'tikaf di masjid-masjid Allah
Ekspedisi Geografi dan Peringatan kemerdekaan 17 Agustus
Kebetulan masa kecil saya habiskan di Jakarta, jadi tahu persis bagaimana semangatnya masyarakat Jakarta menyambut setiap acara peringatan 17 an. Setiap RT menampilkan saat itu menampilkan parade apa saja, mulai dari ondel-ondel, kuda lumping dan berbagai corak lucu, selanjutnya berjalan mengelilingi kampung. Saya dan anak-anak saat itu benar-benar terkagum-kagum, bahkan sampai saat ini masih teringat beberapa orang yang selalu penuh ide dan kreatif dalam meramaikan acara 17 tersebut.
Namun, acara semacam itu saat ini semakin susah ditemukan. Sekalipun ada parade lebih banyak diwarnai kemegahan dan kemewahan. Sehingga acara tersebut hanya menjadi milik segelintir orang dan pemodal. Sementara rakyat jelata hanya bisa melihat tanpa dapat berperan.
Namun acara yang dipelopori pengurus RT 01 RW 10 kelurahan pondok Rajeg, Cibinong cukup menarik. Mereka melakukan ekspedisi geografi sekitar lokasi perumahan, lewat acara jalan santainya menyusuri lingkungan di belakang perumahan, lalu sungai ciliwung dengan airnya yang mulai dangkal hingga ke lokasi makam pahlawan. Pengenalan geografi mutlak diperlukan buat anak-anak dan generasi muda umumnya. Agar mereka mengetahui keadaan topografi wilayahnya masing-masing. Sehingga kita benar-benar memahami kondisi sekitar kita, apakah rawan bencana atau berbukit, penuh rawa, daerah tergenang dan sebagainya. Sehingga masyarakat diharapkan menjadi lebih siap dan kritis apabila terjadi sesuatu yang tidak dikendaki seperti adanya gempa bumi dimana dan kemana lokasi penyelematan (escape area), atau jalur-jalur penyelamatan (escape road).
Peristiwa bencana alam tsunami di Banda Aceh 26 Desember 2004 lalu yang menelan korban demikian besar sekitar 200 ribu jiwa meninggal atau hilang adalah karena masyarakat bukan saja tidak mengetahui apa itu tsunami dan bahayanya tetapi juga kondisi geografi kurang difahami sehingga mereka tidak tahu kemana harus menyelamatkan diri.
Semoga saja kegiatan seperti ini, semakin semarak di wilayah lain di tanah air...yaitu ekspedisi geografi sekitar...
Senin, Juli 21, 2008
In Memorium Bapak H. Tarmidi Bin Kasnari (Kapten Infantri)
Telah berpulang ke Rahmatullah ayahanda tercinta Bapak H. Tarmidi bin Kasnari, pada hari Sabtu 12 Juli 2008 pukul 01.30 di rumah sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto pada usia 70 tahun dan dimakamkan pada hari yang sama di TPU Menteng pulo.
Ayahanda sejak tahun 1990 mengalami stroke hingga menghalangi gerak dan bicaranya. Sakit ini pula yang membatasi aktifitasnya sebagai seorang tentara aktif di ARHANUDRI (artileri Pertahanan Udara RI). Berbagai pengobatan alternatif dilakukan seperti pijat, tusuk jarum, selain pengobatan resmi dari dokter. Namun semua itu tidak membuahkan hasil yang menggembirakan. Menurut pengakuan beliau, sesaat setelah pengobatan memang terasa segar namun beberapa lama kemudian kondisi kembali seperti semula lemah dan sulit bergerak.
Sejak 5 tahun terakhir kondisi bapak memang menurun seiring usianya yang bertambah. Bapak sudah semakin sulit berjalan, praktis kemasjidpun harus dituntun. Sejak tahun 2005 beliau juga sudah tidak ingin ke dokter lagi. Berbagai alasan dikemukakan, menurut beliau, di rumah sakit hanya di periksa sekedarnya dan diberi resep obat yang sama selama beberapa tahun. Beliau lebih suka menebus obat tersebut di apotik langsung. Selain itu perjalanan kerumah sakit yang jauh dan sulitnya berjalan membuat beliau semakin enggan ke rumah sakit.
Kebetulan dua adik masih belum lagi punya pekerjaan pasti dan saya lihat ini salah satu masalah yang mungkin mengganjal fikiran bapak. Dengan adanya usaha keluarga untuk kedua adik tersebut, ataupun merenovasi rumah untuk dapat ditinggali bersama diharapkan bapak juga semakin tenang. Kondisi ini secara tidak langsung akan menenangkan fikiran dan menambah daya tahan tubuhnya.
Saat itu entah kenapa, bapak sepertinya menunggu saya pulang. Setelah 2.3 tahun bertugas di Aceh. Sabtu 5 Juli 2008 saya kembali. Biasanya apabila saya kembali dari Aceh, selalu saya sempatkan main ke rumah orang tua dan bertemu bapak. Kami biasa ngobrol. Bila saya dan anak-anak datang, beliau pasti keluar dari kamar dengan kursi rodanya dan akan duduk di ruang tamu menemani kami hingga menjelang zuhur dan kembali ke kamar.
Namun kali itu, saya menunda mengunjungi bapak. Barangkali karena ini kepulangan terakhir dan kemungkinan tidak kembali lagi ke Aceh sehingga saya berfikir banyak waktu dan berniat akan datang di akhir minggu. Apalagi saat itu anak-anak masih dalam liburan sekolah praktis saya menunda-nunda mengunjungi bapak. Kamis (10 Juli) sore saya di telpon Rudi (adik) bahwa bapak sakit dan minta di bawa dokter, malam hari saya telpon ibu memberi tahu bahwa saya akan datang jumat pagi sekaligus akan membawa bapak ke rumah sakit. Saya minta ibu menyiapkan surat-surat rumah sakit. Jumat 11 Juli 2008, bertepatan dengan hari ulang tahun istri, saya ke
Saya putuskan membawa bapak ke rumah sakit dengan menggunakan ambulan dari pelayanan 118. Selama menunggu ambulan saya mencoba membantu bapak untuk mengucap syahadat. Saya yakin bapak mendengar mesti tidak bisa melihat, ini bisa saya rasakan dari sentuhan tangannya. Pukul 11 bapak dibawa ke rumah sakit Ridwan Meuraksa (tempat beliau selama ini berobat jalan) di ruang unit gawat Darurat (UGD). Kami diberi tahu bahwa ruang ICU rumah sakit sedang di sterilisasi dan disarankan pindah ke rumah sakit rujukan RSPAD. Setelah Jumatan kami bawa bapak ke RSPAD. Saya sempat mendengar bapak mengucap kalimat laa illa ha illallahu mesti terasa berat saat di rumah sakit. Disana pun ternyata seluruh kamar dan ruang ICU sudah penuh, sehingga praktis bapak hanya di rawat di ruang UGD RSPAD. Malam pukul 21.00 saya dapat kepastian bahwa ada kamar yang sedang disiapkan untuk bapak yaitu di lantai 3 unit stroke.
Saya tidak tahu persis apa penyakit bapak. Namun menurut analisa sementara dokter di rumah sakit Ridwan Meuraksa, bapak mengalami stroke ke dua dan juga ada gagal ginjal dan perlu diperiksa darah ataupun dicuci darah sesudahnya. Kedua komplikasi tersebutlah yang membuat bapak terlihat lemas dan tidak sadarkan diri. Namun feeling saya mengatakan bahwa bapak pada kondisi menjelang sakratul maut dan barangkali sudah ajalnya. Ibu menyuruh saya untuk pulang sekalian mengantar adik-dik dan pakaian kotor. Sesampainya di rumah sekitar pukul 23.00 malam saya diberi tahu mbak tuti (kakak pertama) bahwa kondisi bapak menurun. Saya minta mbak tuti membimbing bapak membaca syahadat. Suasana di UGD yang ramai dengan pasien dan pengunjung memang menyulitkan dia untuk selalu menuntun bapak bersyahadat. Kondisi bapak makin menurun. Pukul 24 dipasang alat picu jantung serta berbagai pengobatan lainnya. Saya terus berkomunikasi dengan mbak tuti di rumah sakit, saya hanya minta dia sabar dan tetap membantu bapak membaca shahadat.
Ucapan terima kasih kepada pengurus dan jamaah Mushola Al hidayah, para ustad dan alim ulama di kampong Bali-Manggarai yang dengan sukarela membantu mengurusi persiapan pemandian, sholat jenasah hingga pemakaman dan tahlilan selama 7 malam dengan khatamam alquran. Juga kepada handai tulan dan sabahat yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang menyampaikan belasungkawa dan doanya. Semoga Allah membalas amal saudara/sdri semua. Amin.
Cibinong, 17 Juli 2008
Dari ananda Mulyanto Darmawan